Jumat, September 4

JAKARTA | RMN Indonesia

Kondisi kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln menjadi sorotan setelah bersandar di Pelabuhan Laem Chabang, Thailand, pada Rabu (2/9/2026). Kapal tersebut tampak dipenuhi karat setelah lebih dari 280 hari berada di laut.

USS Abraham Lincoln akhirnya berlabuh di Thailand setelah lebih dari sembilan bulan menjalani operasi dan berlayar di laut. Kapal induk sepanjang sekitar 1.100 kaki itu terlihat mengalami korosi di sejumlah bagian lambung, mulai dari haluan hingga buritan.

USS Abraham Lincoln meninggalkan pangkalan utamanya di San Diego pada November 2025 untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kondisi panjangnya penugasan juga menjadi perhatian sejumlah keluarga marinir dan awak kapal. Mereka mengeluhkan kondisi orang-orang terkasih yang terlalu lama berada di laut. Sejumlah laporan bahkan menyebut penurunan moral akibat kelelahan akut, termasuk adanya awak yang dilaporkan terjun ke laut.

Carl Schuster, mantan kapten Angkatan Laut AS yang tiga kali bertugas di kapal induk kelas Nimitz seperti USS Abraham Lincoln, mengatakan karat di sepanjang garis air bukan sesuatu yang tidak biasa pada kapal yang lama berada di laut.

“Karat di sepanjang garis air bukanlah hal aneh pada kapal yang telah menghabiskan 60 hari atau lebih di laut,” kata Schuster, seperti dikutip CNN.

Menurut Schuster, persoalan karat sulit ditangani ketika kapal masih berada di laut, terlebih dalam kondisi operasi militer. Karena itu, kru membutuhkan waktu untuk melakukan perawatan di darat, termasuk mengampelas karat serta memberikan lapisan cat dasar antikarat dan cat pelindung.

“Berdasarkan apa yang saya lihat, butuh sekitar 30 hari pekerjaan perawatan untuk menghilangkan semua karat,” ujarnya.

USS Abraham Lincoln dijadwalkan berada di Thailand selama beberapa hari. Persinggahan tersebut memberikan kesempatan kepada para pelaut dan marinir untuk beristirahat setelah menjalani penugasan panjang.

Schuster memperkirakan akan dilakukan perawatan ringan selama kapal berada di pelabuhan, terutama untuk menangani bagian-bagian yang mengalami korosi.

“Mereka hanya akan melakukan pekerjaan prioritas tinggi selama kunjungan pelabuhan tujuh hari. Karat di haluan dan bagian lambung depan akan dikerjakan lebih dulu karena bagian-bagian tersebut paling banyak mengalami kerusakan saat kapal bergerak dan menyerap korosi saat kapal bergerak di perairan asin, terutama di laut yang bergelombang,” tuturnya.

Menurut Schuster, sebagian karat di bagian atas lambung kapal masih dapat ditangani ketika kapal berlayar. Namun, pekerjaan perbaikan tertentu harus dilakukan ketika kapal berada dalam kondisi diam dan terbebas dari gelombang.

Ia juga mengingatkan bahwa korosi harus ditangani sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

“Karat itu seperti penyakit menular. Ia menyebar. Jadi, lebih baik menanganinya sejak dini agar bisa dikendalikan atau masalah yang jauh lebih besar menanti di kemudian hari,” katanya.

“Sifatnya melemahkan struktur baja apa pun yang diserangnya. Jadi, Anda harus menyingkirkannya sebelum berdampak fatal pada komponen Anda,” lanjut Schuster.

Hingga USS Abraham Lincoln tiba di Thailand, Presiden AS Donald Trump belum memberikan komentar terkait kondisi kapal induk tersebut.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version