Jumat, September 4

JAKARTA I RMN Indonesia

Wacana pertemuan politik antara Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu ganjalan terbesar bukan hanya berasal dari kedua tokoh tersebut, tetapi juga dari basis pendukung masing-masing yang dinilai masih menyimpan rivalitas sejak Pilgub DKI Jakarta 2017.

Pengamat politik Hasyim menilai, dinamika antara pendukung Anies dan Ahok hingga kini masih cukup kuat. Menurutnya, sebagian pendukung kedua tokoh tersebut masih menunjukkan sikap saling berseberangan dan sulit menerima kubu lawan.

“Kalau dari sisi pendukung, keduanya sama saja. Pendukung Anies dan Ahok bencinya sundul langit ke lawannya,” tulis Hasyim melalui akun X pribadinya, dikutip Jumat (4/9).

Menurut Hasyim, apabila melihat karakter personal kedua tokoh, Anies dinilai lebih mungkin membuka ruang komunikasi dengan Ahok. Anies disebut cenderung lebih santai dan memiliki kemampuan kompromi yang lebih besar dalam menghadapi perbedaan politik.

Sebaliknya, Hasyim menilai Ahok kemungkinan membutuhkan pertimbangan lebih panjang untuk menerima wacana tersebut. Salah satu faktor yang disebut masih menjadi persoalan adalah dinamika politik Pilgub DKI Jakarta 2017, termasuk pernyataan Anies dalam pidato setelah dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Anies orangnya cenderung santai dan lebih bisa kompromi. Sedangkan Ahok, mungkin akan menolak karena masih marah sama Anies, terutama terkait pidato Anies saat pelantikan Gubernur DKI,” ujarnya.

Meski demikian, Hasyim membuka kemungkinan terjadinya rekonsiliasi politik apabila kedua tokoh tersebut mampu mengesampingkan rivalitas masa lalu.

Bahkan, ia berandai-andai Anies dan Ahok dapat tampil bersama dalam sebuah platform komunikasi publik, termasuk membuat kanal YouTube bersama.

Menurutnya, kemunculan keduanya dalam satu ruang komunikasi berpotensi menarik perhatian publik sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan elektabilitas dan membangun citra baru.

Namun, realisasi gagasan tersebut tentu tidak sederhana. Selain persoalan hubungan personal dan sejarah politik, respons dari masing-masing pendukung juga akan menjadi faktor penting.

Jika Anies dan Ahok benar-benar mampu membangun komunikasi politik secara terbuka, pertemuan keduanya berpotensi menjadi simbol rekonsiliasi setelah rivalitas panjang Pilgub DKI 2017. Sebaliknya, jika basis pendukung masih terjebak dalam konflik lama, upaya tersebut berisiko kembali memunculkan polarisasi di tengah masyarakat.
(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version