JAKARTA | RMN Indonesia
Eskalasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kini menjelma menjadi krisis lingkungan lintas batas yang melumpuhkan ruang publik di 3 negara tetangga.
Serangan kabut asap pekat memicu lonjakan Indeks Pencemaran Udara hingga level berbahaya serta memaksa penghentian aktivitas sekolah tatap muka di Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina.
Penyebaran polusi udara akibat Karhutla kali ini tercatat sebagai yang terparah sejak krisis ekologis serupa pada 2015 dan 2019.
Luapan asap yang melintasi batas negara tersebut langsung berdampak pada penutupan ratusan lembaga pendidikan demi meminimalkan risiko terpapar krisis pernapasan pada anak-anak.
Dampak langsung meluasnya polutan ini paling dirasakan oleh masyarakat di kawasan Sarawak, Malaysia, yang mengalami penurunan kualitas udara secara drastis dalam beberapa hari terakhir.
Pemerintah daerah setempat terpaksa menghentikan sementara proses belajar mengajar secara luring di wilayah Kuching, Samarahan, Serian, Sri Aman, serta Betong.
Muhammad Fazli Bendaud, warga Sarawak, Malaysia, menuturkan hingga saat ini mereka masih dirundung cemas dengan kabut asap yang disebutnya “semakin kuat”.
Sebab, hari demi hari, asap kiriman dari Kalimantan semakin tebal. Akibatnya, anak-anak tak bisa sekolah.
“Penduduk yang berada di Sarawak terganggu dengan asap yang semakin hari semakin menebal,” ucapnya kepada BBC dikutip, Jumat (4/9/2026).
“Kasihan kita tengok anak-anak yang sekolahnya terpaksa ditutup,” ia menambahkan.
“Jadi kami harap ada solusi dari semua pihak supaya dapat diselesaikan dengan baik permasalahan ini. Mungkin bukan untuk masa sekarang, masa akan datang, supaya tidak terus terjadi, terjadi, dan terjadi lagi.”
Kondisi tidak kalah memprihatinkan melanda Brunei Darussalam setelah otoritas kesehatan mendeteksi penurunan tajam kualitas udara akibat masuknya partikel asap.
Masyarakat lokal mulai melaporkan gangguan kesehatan ringan seperti batuk massal dan iritasi mata.
Jangkauan polusi udara ini bahkan menebal hingga ke Filipina dan menyelimuti wilayah Luzon sebagai pulau terbesar di negara tersebut.
Lembaga Manajemen Lingkungan dari Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam (DENR-EMB) mengonfirmasi keberadaan paparan asap di Metro Manila, Calabarzon, dan Mimaropa.
Akibat buruknya pemantauan udara di Kota Quezon yang menunjukkan status sangat tidak sehat, seluruh sekolah negeri di Metro Manila terpaksa mengalihkan pembelajaran ke sistem daring.
Pihak berwenang mengimbau warga agar bertahan di dalam rumah serta mengenakan masker dengan filtrasi tinggi seperti N95.
Estela Lata, seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, bercerita kedua putrinya mengikuti kelas daring setelah pejabat Kota Quezon menangguhkan pembelajaran tatap muka di semua sekolah negeri pada Selasa (01/09).
Ia dan anak-anaknya mulai mengenakan masker, bahkan di dalam rumah kecil mereka.
“Saya khawatir putri-putri saya akan menderita batuk dan flu akibat kabut asap, itulah sebabnya saya meminta mereka mulai memakai masker.
Saya harap ini [kabut asap] akan segera berakhir,” tutur Estela Lata kepada jurnalis BBC di Filipina, Virma Simonetta Rivera.
Kejadian ini berakar dari kebakaran hutan dan lahan tahunan yang rutin melanda berbagai wilayah perkebunan serta lahan gambut di Kalimantan.
Tanpa penanganan konkret dari sumber kebakaran di Indonesia, polusi udara musiman ini dipastikan akan terus berulang dan membahayakan kesehatan serta stabilitas kawasan Asia Tenggara. (Egi)
