Kamis, September 10

TANGERANG SELATAN I RMN Indonesia

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus menjadi perhatian. Hingga pekan ke-35 tahun 2026, jumlah kasus secara kumulatif telah menembus 148.370 kasus.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan setelah kasus ISPA kembali melonjak dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, tercatat 5.802 kasus ISPA pada pekan ke-35.

Angka itu meningkat 19,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di angka 4.844 kasus.

Kepala Dinkes Tangsel, Alin Hendalin Mahdaniar, mengatakan peningkatan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperketat pemantauan terhadap perkembangan penyakit pernapasan di masyarakat.

“Kasus ISPA meningkat dari 4.844 kasus pada Minggu ke-34 menjadi 5.802 kasus pada Minggu ke-35 atau naik 19,8 persen,” kata Alin dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2026).

Secara kumulatif, sejak pekan pertama hingga pekan ke-35 2026, jumlah kasus ISPA di Tangsel telah mencapai 148.370 kasus.

Serpong Tertinggi
Dari tujuh kecamatan di Tangsel, Serpong menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 38.366 kasus.

Berikutnya adalah Kecamatan Pamulang dengan 27.293 kasus, Ciputat 26.895 kasus, Pondok Aren 22.170 kasus, Ciputat Timur 19.694 kasus, Setu 8.637 kasus, dan Serpong Utara 5.315 kasus.

“Data tersebut menjadi dasar pemantauan beban kasus dan penentuan wilayah yang memerlukan perhatian lebih lanjut,” ujar Alin.

Lonjakan kasus ISPA ini terjadi ketika kualitas udara Tangsel juga tengah menjadi sorotan, terutama menyusul paparan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Namun, Dinkes Tangsel belum menyatakan bahwa peningkatan kasus tersebut secara langsung disebabkan oleh abu vulkanik.

Alin menegaskan, tren ISPA di Tangsel sebenarnya sudah menunjukkan peningkatan sebelum terjadinya paparan abu vulkanik. Selain itu, terdapat sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi tersebut, seperti perubahan cuaca dan kualitas udara.

“Peningkatan tersebut belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik, karena tren ISPA telah menunjukkan peningkatan sebelum kejadian dan dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan cuaca dan kualitas udara,” jelasnya.

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Pernapasan
Meski belum dapat mengaitkan lonjakan kasus secara langsung dengan abu vulkanik, Dinkes Tangsel mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai dampak paparan abu terhadap kesehatan.

Abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan, mulai dari iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa berat di dada hingga sesak napas.

Paparan abu juga berpotensi memperburuk kondisi masyarakat yang memiliki asma, PPOK maupun penyakit paru lainnya. Gangguan kesehatan juga dapat muncul pada mata dan kulit.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta penderita penyakit pernapasan dan penyakit kronis diminta mendapat perhatian lebih.

Dinkes Tangsel mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berdebu.
Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker serta perlindungan terhadap mata dan kulit sangat dianjurkan.

Masyarakat juga diminta menjaga makanan dan sumber air tetap tertutup serta menghindari pembakaran sampah secara terbuka.

Dinkes mengingatkan warga agar tidak mengabaikan gejala yang muncul. Apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata merah atau nyeri, maupun keluhan yang semakin berat, masyarakat diminta segera mendatangi Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Dengan angka kumulatif yang telah mencapai 148 ribu kasus dan lonjakan hampir 20 persen dalam satu pekan, perkembangan ISPA di Tangsel kini menjadi sinyal penting agar kewaspadaan kesehatan masyarakat tidak mengendur, terlebih ketika kualitas udara sedang menghadapi tekanan.(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version