Jumat, September 11

JAKARTA I RMN Indonesia

Film dokumenter NAZA mengungkap kesaksian 24 orang dari kalangan militer dan intelijen Israel mengenai sistem operasi yang disebut digunakan dalam serangan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.

Film karya sutradara Israel peraih Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor, tersebut diputar dalam Festival Film Internasional Venesia pada Kamis (10/9/2026). NAZA menjadi satu-satunya film dokumenter yang masuk kompetisi utama untuk memperebutkan penghargaan Golden Lion.

Judul NAZA berasal dari akronim militer Israel yang menurut film tersebut digunakan secara terselubung untuk merujuk pada warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam sebuah serangan.

Film ini diproduksi bersama The Guardian dan menampilkan kesaksian sejumlah perwira intelijen serta tentara Israel yang disebut pernah terlibat dalam operasi pengawasan dan serangan jarak jauh terhadap warga Palestina.

Para narasumber diwawancarai secara anonim karena risiko yang mungkin mereka hadapi apabila identitas dan aktivitas mereka selama perang diketahui publik. Wawancara dilakukan pada malam hari di sejumlah atap gedung di Tel Aviv.

Penampilan dan suara para narasumber juga diubah secara digital untuk melindungi identitas mereka.

Ungkap Metode Operasi di Gaza

Dalam film tersebut, para narasumber membeberkan sejumlah metode yang menurut mereka digunakan militer Israel selama perang di Gaza.

Salah satunya adalah sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang disebut digunakan untuk mengidentifikasi target dalam jumlah besar yang diduga merupakan anggota Hamas berpangkat rendah.

Target tersebut kemudian disebut dapat diserang ketika berada di rumah pada malam hari. Para narasumber mengatakan militer mengetahui serangan semacam itu berpotensi menewaskan anggota keluarga target yang berada di dalam rumah.

Militer Israel juga disebut menggunakan peretasan telepon untuk mengetahui lokasi target. Dalam sejumlah kasus, aparat bahkan disebut dapat mendengarkan percakapan target dengan istri dan anak-anaknya sebelum serangan dilakukan.

Kesaksian dalam film tersebut juga menggambarkan kehancuran kawasan permukiman di Gaza. Para narasumber menceritakan pembakaran rumah warga secara sistematis serta pembunuhan warga sipil di lokasi distribusi makanan.

Salah satu narasumber disebut pernah bekerja di unit intelijen rahasia yang melapor langsung kepada kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Narasumber tersebut mengatakan salah satu misi unitnya adalah “menggagalkan perdamaian”.

Sutradara Yuval Abraham mengatakan pembuatan film dilakukan dengan meminta para mantan pejabat dan tentara menjelaskan secara langsung bagaimana sistem yang mereka gunakan bekerja.

“Kami hanya memberi tahu para petugas ini: ‘Tolong jelaskan kepada kami apa yang Anda lakukan. Bagaimana sistem ini bekerja? Gambarkan kepada kami.’ Terkadang, hanya dengan mengajukan pertanyaan, Anda mendapatkan jawabannya,” kata Abraham dalam konferensi pers di Venesia, Kamis (10/9).(hmi)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version