Jumat, April 17

JAKARTA | RMN Indonesia

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep yang percaya diri dan yakin bisa mengusung calon gubernur sendiri serta menembus parlemen pada Pemilu 2029 dinilai sebagai bentuk optimisme yang tidak berpijak pada realitas politik.

Pengamat Politik UGM, Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, menilai langkah PSI justru menunjukkan kegagalan membaca peta kekuatan mereka sendiri.

Menurutnya sikap percaya diri saja tidak cukup untuk mengubah fakta politik yang ada.

“Ya, pertama politisi memang bagus ya bersikap optimis gitu. Tapi kita harus melihat bagaimana bumi dipijak langit dijunjung,” kata Alfath kemarin.

Dalam hal ini, Alfath menyoroti gelaran Pemilu 2024 lalu yang kala itu PSI sudah mendapat dukungan penuh dari Presiden Jokowi, yang notabene masih sangat dominan di panggung politik nasional.

Kendati demikian, perolehan suara PSI tetap stagnan di kisaran dua persen saja hingga terperosok dari ambang batas parlemen.

Kondisi itu, menurut Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Fisipol UGM ini, menjadi bukti kuat bahwa PSI tidak benar-benar mampu mengonversi popularitas tokoh menjadi suara elektoral.

“Kalau kita lihat di 2024 yang pada saat itu sudah disupport oleh kekuasaan Jokowi yang saat itu masih famous gitu ya. Kemudian suaranya hanya sekitar 2 persen-an saja,” ujarnya.

Alfath menilai bergantungnya PSI pada figur Jokowi kini justru menjadi bumerang. Bukan lagi sebagai penopang partai namun beban.

Belum lagi dengan ketokohan Jokowi makin hari makin lemah, diserang sana sini, isu ijazah, bahkan Gibran juga isu ijazahnya juga diserang kayak gitu,” tuturnya.

“Kemudian Kaesang yang tidak cukup mampu untuk mengkonsolidasikan juga saya kira ini jadi tantangan besar ya, ini problem berat buat PSI,” katanya menambahkan.

Ketika ditanya apakah target PSI di 2029 hanya akan menjadi mimpi yang terulang, Alfath tidak menampik. Ia mengatakan PSI kini berada dalam kondisi disorientasi dan gagal mempertahankan identitas awalnya sebagai partai progresif dan antikorupsi.

“Bisa jadi ya (mimpi yang berulang). PSI mengalami disorientasi dan kegagalan ini ya dalam konteks bagaimana mengalami penuaan dini,” ucapnya.(jr)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version