NIAS | RMN Indonesia
Warga Desa Ehosakhozi, Kecamatan Hiliserangkai, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, berharap program Karya Bakti TNI Skala Besar Tahun 2026 yang tengah dilaksanakan oleh Kodim 0213/Nias dapat menjangkau pembangunan infrastruktur di wilayah mereka, khususnya pembangunan jembatan di Sungai Dofitolu.
Jembatan yang diharapkan warga tersebut berada di Dusun II Desa Ehosakhozi dan menjadi akses penting yang menghubungkan sejumlah wilayah, termasuk Desa Atualuo dan Desa Ehosakhozi. Selama ini, masyarakat masih harus melintasi aliran sungai yang kerap sulit dilewati, terutama saat curah hujan tinggi.
Salah seorang warga, Kris Laoli, mengatakan masyarakat berharap TNI AD dapat mengarahkan pembangunan satu unit Jembatan Bailey atau setidaknya Jembatan Aramco untuk membuka akses transportasi yang lebih aman dan layak.
“Jembatan ini nantinya akan menghubungkan Desa Atualuo dengan Desa Ehosakhozi serta menjadi jalur penghubung bagi beberapa wilayah lainnya. Kehadirannya akan sangat membantu kelancaran aktivitas masyarakat,” ujar Kris kepada harianmerdeka.co, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, keberadaan jembatan tersebut memiliki peran strategis karena menjadi akses utama warga dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga mengangkut hasil pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
“Kami berharap ada perhatian nyata dari TNI melalui program Karya Bakti TNI. Pembangunan Jembatan Bailey atau minimal Jembatan Aramco akan sangat membantu memperlancar mobilitas warga, distribusi hasil pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan seorang pengendara sepeda motor yang rutin melintasi kawasan tersebut. Ia mengaku akses menuju sungai sangat sulit dilalui, terutama bagi pelajar yang setiap hari menggunakan jalur tersebut untuk berangkat ke sekolah.
“Kalau hujan turun, sungai ini praktis tidak bisa dilewati. Anak-anak sekolah dan masyarakat sering mengalami kesulitan. Karena itu kami sangat berharap ada pembangunan jembatan,” ujarnya.
Ia menilai hingga saat ini belum ada solusi infrastruktur yang memadai untuk mengatasi persoalan tersebut. Akibatnya, masyarakat masih harus menghadapi risiko saat melintasi sungai, terutama ketika debit air meningkat.
Menurutnya, pembangunan jembatan permanen memang menjadi kebutuhan utama. Namun apabila belum memungkinkan, Jembatan Aramco dinilai dapat menjadi solusi sementara untuk menjamin konektivitas masyarakat.
“Sungai ini sangat membutuhkan jembatan. Bahkan untuk pejalan kaki dan pengendara roda dua saja masih sulit dilintasi. Kendaraan roda empat hampir tidak mungkin lewat karena kondisi medan yang sempit dan diapit jurang di kedua sisi. Tidak ada jalur alternatif lain sehingga warga tetap terpaksa menggunakan akses tersebut meskipun dalam kondisi berbahaya,” tuturnya.
Warga berharap program Karya Bakti TNI Skala Besar Tahun 2026 tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur di titik-titik tertentu, tetapi juga dapat menyentuh wilayah yang selama ini masih mengalami keterbatasan akses transportasi.
Masyarakat meyakini pembangunan jembatan di Sungai Dofitolu akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan konektivitas antarwilayah, mempermudah akses pendidikan dan layanan kesehatan, serta memperkuat perekonomian lokal yang sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian.(Fj).
Foto: Kris Laoli dan kondisi Sungai Dofitolu di Kabupaten Nias saat anak-anak sekolah terpaksa menyeberangi sungai tanpa akses jembatan yang memadai.
