Jakarta | RMN Indonesia
Jagat media sosial kembali diramaikan oleh konten kreatif yang menampilkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Kali ini, sebuah video berdurasi sekitar 50 detik menyulap Ketua Umum Partai Golkar tersebut menjadi sosok pahlawan super bertajuk ‘Avatar Nusantara: Bahlil Sang Penguasa Energi Nusantara’.
Dalam tayangan video tersebut, Bahlil digambarkan sebagai ‘Kanda Bahlil’, sosok penjaga harmoni yang mampu menyatukan empat elemen alam, yakni air, tanah, angin, dan api.
Visualisasi tersebut menyimbolkan perannya dalam menjaga keseimbangan energi nasional sekaligus memanfaatkan potensi alam demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Karya ini disebut-sebut lahir dari apresiasi publik terhadap kinerja cekatannya di kementerian.
Menanggapi fenomena viral ini, Direktur Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin menilai hal tersebut sebagai bentuk pengakuan masyarakat atas langkah Bahlil menstabilkan pasokan energi di Tanah Air. Ia menilai, pendekatan kreatif semacam ini sangat relevan untuk mencuri perhatian publik.
“Dalam komunikasi politik hal seperti ini sah-sah saja, karena selalu ada sisi positif dan negatifnya, apalagi masyarakat saat ini lebih menyukai konten yang ringan dibanding isu yang rumit,” kata Ujang dalam keterangannya, Kamis, 30 Juli 2026.
Ujang turut menyinggung viralnya lagu “MBG” tentang Bahlil beberapa waktu lalu yang sukses memikat hati masyarakat. Hal ini membuktikan bahwa hiburan adalah medium yang ampuh untuk memperkenalkan sosok pejabat negara beserta program kerjanya.
“Konten yang dibuat kreator memudahkan masyarakat mengenal figur pejabat maupun program pemerintah. Kehidupan masyarakat sudah cukup berat, sehingga mereka lebih mudah menerima konten yang ringan dan menghibur, sedangkan konten yang terlalu berat biasanya akan dilewati,” tuturnya.
Lebih jauh, akademisi ini menyoroti kekuatan media sosial sebagai pembentuk opini publik yang signifikan. Ia berkaca pada fenomena global, seperti di Timur Tengah, di mana platform digital mampu mendorong perubahan besar dalam ruang politik.
“Media sosial memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perubahan isu maupun kebijakan. Di Indonesia pun media sosial mampu menyederhanakan penyampaian kebijakan agar lebih mudah diterima, terutama oleh kalangan muda,” ujarnya.
Menurut Ujang, generasi masa kini memiliki kecenderungan mengonsumsi informasi yang serba instan, sederhana, dan menghibur.
“Generasi muda lebih menyukai konten yang sederhana dan tidak rumit. Karena itu, konten media sosial dibuat menghibur agar masyarakat lebih mengenal figur yang ditampilkan sekaligus melihat bagaimana program pemerintah dijalankan dan dirasakan manfaatnya,” kata Ujang.
“Yang paling penting adalah kebijakannya baik, komunikasinya juga baik, sehingga masyarakat bisa menikmati dan merasakan manfaatnya. Jika itu terjadi, maka akan muncul efek positif terhadap penerimaan publik,” ujarnya.
Sebagai ruang komunikasi dua arah, para pejabat publik dituntut untuk menyajikan fakta, bukan sekadar polesan belaka.
“Para pejabat harus membuat konten yang edukatif, objektif, dan tidak dibuat-buat. Yang lebih penting lagi, kebijakannya harus bisa diterima, dirasakan manfaatnya, karena masyarakat bukan hanya membutuhkan komunikasi yang baik, tetapi juga kebijakan yang benar-benar memberi manfaat bagi mereka,” ujarnya. (Fj)
