Rabu, September 16

JAKARTA I RMN Indonesia

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meski harga minyak dunia mengalami gejolak akibat ketidakpastian geopolitik dan konflik di sejumlah kawasan.

Bahlil menegaskan, pemerintah akan tetap menjaga harga BBM bersubsidi agar tetap terjangkau masyarakat, sekalipun harga minyak dunia bergerak di atas asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Untuk harga subsidi, berapa pun harganya di dunia, tidak akan kita naikkan,” tegas Bahlil dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan ketika tekanan terhadap pasar energi global masih berlangsung.

Konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta Eropa Timur berpotensi mengganggu rantai pasok dan meningkatkan volatilitas harga minyak dunia.

Bahlil menggambarkan situasi geopolitik tersebut seperti penyakit yang terus kambuh.

“Saya selalu menganalogikan ini seperti penyakit malaria. Pagi sembuh, malam kambuh lagi,” ujarnya.

Kebutuhan BBM Jauh di Atas Produksi Dalam Negeri
Di tengah gejolak pasar minyak dunia, Indonesia menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni kesenjangan antara kebutuhan BBM nasional dan produksi minyak dalam negeri.

Bahlil menyebut kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, lifting minyak Indonesia saat ini hanya berada di kisaran 600–610 ribu barel per hari.

Kondisi tersebut membuat Indonesia masih membutuhkan pasokan minyak mentah dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

Untuk mengamankan pasokan, pemerintah pun mencari sumber minyak mentah dari berbagai negara. Bahlil mengungkapkan dirinya turut mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja ke Rusia untuk melakukan negosiasi pasokan crude oil jangka panjang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan di tengah kondisi geopolitik global yang belum stabil.

“Indonesia adalah negara merdeka, tidak ada satu pun kekuatan asing yang bisa mengintervensi kebijakan pasokan energi kita demi kepentingan nasional,” kata Bahlil.

Harga BBM Subsidi Jadi Instrumen Perlindungan Daya Beli Keputusan mempertahankan harga BBM bersubsidi juga berkaitan dengan upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat.

Kenaikan harga minyak dunia pada dasarnya dapat memberikan tekanan terhadap biaya pengadaan energi dan anggaran subsidi. Namun, pemerintah memilih tidak langsung meneruskan tekanan tersebut kepada konsumen BBM bersubsidi.

Menurut Bahlil, masyarakat harus mendapatkan perlindungan ketika gejolak harga energi global berpotensi meningkatkan beban ekonomi rumah tangga.

Dengan demikian, harga BBM bersubsidi diposisikan sebagai salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga keterjangkauan energi dan stabilitas daya beli masyarakat.

Hilirisasi Nikel Disebut Dongkrak Nilai Ekspor
Selain persoalan ketahanan energi, Bahlil juga menyoroti perkembangan kebijakan hilirisasi mineral, khususnya komoditas nikel.

Ia membandingkan nilai ekspor nikel Indonesia sebelum dan sesudah kebijakan larangan ekspor bahan mentah diterapkan.(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version