Selasa, Juli 28

BINTARO | RMN Indonesia

Demam tifoid atau tipes masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang kerap dianggap sepele oleh masyarakat. Padahal, keterlambatan penanganan maupun pengobatan yang tidak tuntas dapat memicu komplikasi serius, mulai dari perdarahan saluran cerna hingga perforasi atau kebocoran usus yang mengancam jiwa.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Bintaro, dr. Yoppi Kencana, Sp.PD, menjelaskan bahwa penyebab utama demam tifoid adalah infeksi bakteri Salmonella typhi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

“Setelah melewati lambung, bakteri akan berkembang biak dan menyerang usus halus. Organ ini merupakan pusat penyerapan nutrisi sehingga ketika terjadi infeksi akan timbul peradangan yang mengganggu sistem pencernaan sekaligus memicu respons imun berupa demam tinggi dan tubuh terasa sangat lemas,” jelas dr. Yoppi.

Ia menerangkan, gejala tifoid umumnya baru muncul sekitar tujuh hingga 14 hari setelah seseorang terpapar bakteri. Penyakit ini ditandai dengan demam yang meningkat secara bertahap, terutama pada sore hingga malam hari, disertai gangguan pencernaan seperti mual, muntah, hilang nafsu makan, nyeri ulu hati, hingga sembelit atau diare.

Selain itu, penderita juga dapat mengalami sakit kepala berat, nyeri otot, tubuh lemas, serta muncul lapisan putih pada lidah dengan bagian tepi yang tampak kemerahan atau dikenal sebagai typhoid tongue.

Menurut dr. Yoppi, masih banyak anggapan keliru yang berkembang di masyarakat mengenai penyakit tifoid. Salah satunya adalah anggapan bahwa penyakit ini hanya disebabkan kelelahan.

“Faktanya, kelelahan hanya dapat menurunkan daya tahan tubuh, sedangkan penyebab utama tifoid tetap infeksi bakteri Salmonella typhi,” katanya.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menghentikan konsumsi antibiotik ketika demam mulai turun. Padahal, antibiotik harus dihabiskan sesuai anjuran dokter untuk mencegah kekambuhan maupun munculnya bakteri yang kebal terhadap obat.

Ia juga mengingatkan bahwa pengobatan herbal atau alternatif tidak dapat menggantikan terapi antibiotik apabila diagnosis tifoid telah ditegakkan.

Lebih lanjut, dr. Yoppi mengungkapkan bahwa komplikasi menjadi ancaman terbesar apabila pengobatan terlambat atau tidak dilakukan secara optimal. Peradangan yang terus berlangsung dapat mengikis lapisan dinding usus halus sehingga memicu perdarahan saluran cerna maupun perforasi usus yang membutuhkan tindakan operasi darurat.

Selain itu, infeksi juga berpotensi menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan sepsis, yaitu kondisi infeksi berat yang memerlukan penanganan intensif.

Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi yang tidak kunjung membaik, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering dan jarang buang air kecil, hingga penurunan kesadaran.

Untuk memastikan diagnosis, dokter tidak hanya mengandalkan gejala klinis, tetapi juga melakukan pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap, TUBEX TF, maupun kultur darah atau feses.

Penanganan tifoid meliputi pemberian antibiotik sesuai hasil pemeriksaan dan resep dokter, istirahat yang cukup, serta pengaturan pola makan dengan mengonsumsi makanan lunak yang mudah dicerna dan menghindari makanan pedas, asam, berlemak, maupun tinggi serat kasar selama masa pemulihan.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Yoppi menganjurkan masyarakat melakukan vaksinasi tifoid secara berkala, menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan maupun setelah dari toilet, memastikan makanan dan minuman diolah secara higienis, serta menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga asupan cairan dan nutrisi.

“Demam tifoid bukan sekadar akibat kelelahan, tetapi infeksi bakteri yang memerlukan diagnosis dan penanganan medis yang tepat. Dengan pengobatan yang tuntas dan kepatuhan terhadap terapi, penyakit ini dapat sembuh secara optimal serta terhindar dari komplikasi yang membahayakan,” tutupnya.(Wil)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version