JAKARTA I RMN Indonesia
Pengamat Transportasi Deddy Herlambang mendukung rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penyesuaian tarif layanan Transjabodetabek.Ia menyebut tarif flat Rp 3.500 yang selama ini berlaku untuk semua rute tidak lagi relevan, terutama untuk rute jarak jauh seperti Blok M – Bogor dan Blok M – Bandara Soekarno Hatta.
Menurutnya, tarif Transjabodetabek seharusnya kompetitif dengan tarif Kereta Rel Listrik (KRL).
“Kalau Rp 3.500 untuk Transjabodetabek itu memang terlalu murah. KRL saja kalau Bogor – Manggarai Rp6.000, Depok – Manggarai Rp5.000. Makanya kalau Rp3.500 sangat-sangat murah. Paling tidak harganya kompetitif dengan KRL,” ucap dia kepada awak media di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Meski mendukung penyesuaian tarif Transjabodetabek, Deddy menekankan agar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan timnya melakukan kajian mendalam terkait kemauan dan kemampuan membayar (ATP-WTP) masyarakat. Ia berharap penyesuaian tarif dapat mengedepankan dialog dengan seluruh pemangku kepentingan, utamanya para pengguna layanan.
“Ini sedang krisis ekonomi. BBM naik walaupun Pertalite aman, tapi yang lain naik. Minyak goreng naik, beras naik, jangan sampai kenaikan tarif ini tambah membebani masyarakat. Menurut saya penyesuaian tarif tidak masalah, hanya perlu hati-hati soal penetapan tarif,” tutur dia.
Deddy sendiri secara khusus menyoroti rute Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang saat ini hanya dikenakan tarif Rp3.500. Rute ini telah melayani total 77.391 penumpang sejak beroperasi pada 12 Maret 2026, dengan okupansi harian mencapai rata-rata 1.269 penumpang.
Dengan jarak tempuh sepanjang 65,13 kilometer, tarif Rp 3.500 untuk rute ini menurut Deddy terlampau murah. Atas dasar itu, ia menilai penyesuaian tarif di rentang Rp 10.000 – Rp 15.000 masih wajar dan terjangkau, utamanya bagi mereka yang ke bandara untuk keperluan penerbangan.
“Kalau pengguna pesawat, tarif Rp10.000 sampai Rp15.000 masih sangat murah dan terjangkau. Tiket pesawat saja bisa jutaan rupiah, masa feeder ke bandara hanya Rp3.500?” kata Deddy.
PEMPROV DKI PERLU SIAPKAN TARIF KHUSUS PEKERJA BANDARA
Meski demikian, Deddy mendorong agar penyesuaian tarif untuk rute Blok M – Bandara Soetta tidak diberlakukan secara seragam kepada seluruh pengguna. Ia meminta Pemprov DKI Jakarta mempertimbangkan skema tarif khusus bagi para pekerja bandara yang setiap hari bergantung pada layanan tersebut untuk berangkat dan pulang bekerja.
Menurut Deddy, segmen pengguna layanan Transjabodetabek menuju Bandara Soetta tidak hanya penumpang pesawat, tetapi juga puluhan ribu pekerja yang beraktivitas di kawasan bandara. Mulai dari pegawai restoran, toko, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
“Kalau untuk pegawai kerja di bandara, pegawai toko, restoran, mungkin dengan tarif Rp10.000-Rp15.000 itu masih relatif mahal. Jadi khusus untuk bandara mungkin perlu disediakan tiket khusus bagi mereka pekerja bandara,” ujarnya.
Ia memperkirakan terdapat sekitar 50 ribu pekerja yang beraktivitas di kawasan Bandara Soetta. Sebagian besar masih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, untuk bekerja setiap hari.
“Yang kerja di Bandara Soetta itu kurang lebih 50 ribu orang. Bukan pegawai Angkasa Pura saja, tetapi pegawai restoran, toko-toko dan layanan lainnya. Kalau 40 ribu saja mereka menggunakan motor, makanya di sana macet sekali. Ada ribuan orang parkir motor di kawasan bandara,” kata Deddy.
Menurut dia, kehadiran layanan Transjabodetabek ke Bandara Soetta sejatinya dapat menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan, konsumsi bahan bakar, serta risiko kecelakaan lalu lintas yang selama ini cukup tinggi di kawasan tersebut.
“Kalau mereka beralih ke transportasi umum, kemacetan bisa berkurang, penggunaan BBM subsidi juga berkurang, dan angka kecelakaan bisa ditekan. Karena itu yang perlu diincar sebenarnya adalah para pekerja bandara,” tuturnya.(Fj).
