JAKARTA | RMN Indonesia
Pendiri raksasa properti China Evergrande Group, Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dan denda US$2 miliar atau sekitar Rp35 triliun. Vonis tersebut dijatuhkan pengadilan China pada Kamis (20/8).
Hukuman itu dijatuhkan lima tahun setelah kejatuhan Evergrande mengguncang sektor properti, perekonomian, dan pasar keuangan China.
Hui, yang pernah masuk jajaran orang terkaya di Asia, sebelumnya mengakui bersalah atas delapan dakwaan dalam persidangan pada April 2026. Dakwaan tersebut antara lain penyalahgunaan dana, penipuan dalam penggalangan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, penyaluran pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas palsu, serta penyuapan.
Selain menjatuhkan hukuman penjara dan denda, pengadilan China juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi Hui yang kini berusia 67 tahun.
Hakim menyatakan tindakan kriminal yang dilakukan Evergrande Group, Hengda Real Estate, dan Hui Ka Yan melibatkan dana dalam jumlah sangat besar, menimbulkan kerugian ekonomi signifikan, serta memberikan dampak sosial yang serius. Karena itu, ketiganya dinilai layak mendapat hukuman berat.
Tak hanya Hui, lima eksekutif senior Evergrande lainnya juga dijatuhi hukuman penjara antara enam hingga 18 tahun. Media pemerintah China, CCTV, melaporkan sebanyak 56 orang yang terkait dengan skandal Evergrande menerima vonis pada hari yang sama.
Kasus Evergrande sebelumnya memicu kemarahan publik setelah perusahaan gagal memenuhi kewajibannya terhadap produk manajemen kekayaan bernilai miliaran dolar. Banyak investor ritel, khususnya masyarakat berpenghasilan menengah dan bawah, kehilangan tabungan akibat krisis tersebut.
Sejumlah korban mempertanyakan apakah hukuman terhadap Hui dapat mengembalikan dana mereka yang hilang.
Hui mendirikan Evergrande pada 1996 dan kemudian membangun perusahaan tersebut menjadi salah satu pengembang properti terbesar di China. Pertumbuhan Evergrande didorong ekspansi agresif dengan mengandalkan pembiayaan berbasis utang.
Pada 2017, Forbes mencatat kekayaan bersih Hui mencapai sekitar US$45,3 miliar dan menempatkannya sebagai salah satu taipan terkaya di Asia.
Namun, strategi ekspansi berbasis utang tersebut akhirnya menjadi beban besar bagi perusahaan. Kewajiban utang Evergrande membengkak hingga sekitar US$300 miliar sebelum perusahaan mengalami krisis likuiditas.
Kondisi Evergrande semakin memburuk hingga Pengadilan Tinggi Hong Kong memerintahkan likuidasi perusahaan pada 2024. Saham Evergrande kemudian resmi dihapus dari perdagangan bursa.
Runtuhnya Evergrande sejak 2021 menjadi salah satu pemicu utama krisis berkepanjangan di sektor properti China. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga menjalar ke investor obligasi global dan sektor perbankan yang harus menghadapi kerugian dalam jumlah besar.
Kasus Hui Ka Yan menjadi salah satu contoh terbesar bagaimana ekspansi bisnis berbasis utang yang agresif dapat berubah menjadi krisis ketika perusahaan kehilangan kemampuan memenuhi kewajibannya.(hmi)
