JAKARTA | RMN Indonesia
Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp18.173 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (28/10/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi penguatan indeks dolar AS menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), tingginya harga minyak dunia, serta aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik.
Berdasarkan data perdagangan pagi, rupiah melemah 17 poin atau 0,09% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Sementara itu, data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp18.156 per dolar AS, terkoreksi 21 poin atau 0,12%.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS terpantau bervariasi. Won Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,66%, diikuti baht Thailand yang turun 0,22%. Yuan China melemah 0,02%, dolar Singapura terkoreksi 0,05%, sedangkan yen Jepang turun 0,01%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia menguat. Dolar Taiwan Baru terapresiasi 0,26%, ringgit Malaysia naik 0,13%, peso Filipina menguat 0,14%, rupee India naik 0,08%, dan dolar Hong Kong terapresiasi 0,01%.
Di antara mata uang utama negara maju, dolar Australia menguat 0,22%. Sementara itu, dolar Kanada melemah 0,07%, franc Swiss turun 0,08%, pound sterling Inggris terkoreksi 0,05%, dan euro melemah 0,01%.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah masih berpotensi melemah seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish atau kecenderungan kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan FOMC.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah di tengah kenaikan indeks dolar AS akibat antisipasi sikap hawkish The Fed dalam pertemuan FOMC malam ini,” ujar Lukman di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Lukman, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS. Harga minyak dunia yang masih tinggi juga menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban impor energi Indonesia. Selain itu, aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik turut membebani pergerakan rupiah.
“Harga minyak yang masih tinggi dan aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik juga masih membebani rupiah,” katanya.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS sepanjang perdagangan Rabu. Pelaku pasar akan mencermati hasil pertemuan FOMC untuk melihat arah kebijakan moneter AS yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah. (Egi)
