Rabu, Oktober 28

JAKARTA | RMN Indonesia

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji memberikan peringatan kepada importir dan produsen gula rafinasi untuk menjaga produknya supaya tidak rembes ke pasar menjadi gula konsumsi. Selain merugikan petani, kebocoran tersebut berdampak buruk bagi kesehatan dan ujungnya merugikan negara.

”Kami minta dengan sangat kepada AGRI (Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia) supaya gula rafinasi ini tidak bocor di konsumen. Karena kalau bocor menjadi gula konsumsi, itu seperti menikam saudara kita sendiri,” tegas Sarmuji di kantor Kemenperin, Selasa (27/10).

Gula rafinasi memang dibutuhkan industri makanan-minuman dan farmasi sehingga untuk mencukupinya dilakukan impor dari luar negeri.

Menurut Sarmuji, utilisasi gula rafinasi untuk industri makanan minuman serta farmasi belum maksimal karena baru sekitar 60 persen. Peningkatan utilisasi industri makanan dan minuman serta farmasi akan semakin meningkatkan kontribusi sektor ini terhadap perekonomian negara.

Di sisi lain, gula konsumsi untuk masyarakat sudah tercukupi oleh produksi gula dalam negeri. Gula konsumsi diambil dari hasil panen petani tebu nasional.

”Jadi saya sebagai Menteri ingin mendapatkan kepastian dari AGRI, komitmen supaya gula rafinasi ini tidak bocor ke konsumen. Jadi kita sama-sama jaga. Kami berikan jaminan ketercukupan gula rafinasi sebagai bahan baku industri, tetapi sebaliknya kita juga meminta dengan sangat dan akan kita awasi dengan ketat supaya gula rafinasi tidak bocor ke konsumen ya, sebagai gula konsumsi,” ujar politikus Golkar ini. (Egi)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version