KOTA BOGOR | RMN Indonesia
Dinamika internal di tubuh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kota Bogor dinilai kian memuncak dan membutuhkan penyelesaian serius.
Di tengah meningkatnya ketegangan internal, Wakil Sekretaris PC GP Ansor Kota Bogor, Nur Isman Iskandar, secara terbuka mendesak Ketua PC GP Ansor Kota Bogor untuk mempertimbangkan pengunduran diri demi mengakhiri kebuntuan serta menyelamatkan soliditas organisasi.
Nur Isman menilai, kepemimpinan dalam organisasi kader tidak cukup hanya berpegang pada posisi formal, tetapi juga membutuhkan kepercayaan, komunikasi, dan kemampuan menyatukan seluruh elemen.
“Kalau kepercayaan sudah hilang dan kepemimpinan justru melahirkan ketegangan di internal, maka harus ada keberanian untuk melakukan evaluasi. Jangan mempertahankan jabatan dengan mengorbankan organisasi,” tegas Nur Isman Iskandar dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/10/2026).
Bukan Sekadar Perbedaan Pendapat
Menurut Nur Isman, dinamika yang berkembang saat ini tidak seharusnya dianggap sebagai perbedaan pendapat biasa. Ia menyebut perbedaan dalam organisasi adalah hal wajar, namun menjadi masalah ketika bereskalasi menjadi ketegangan yang mengganggu soliditas kader.
“Berbeda pendapat itu biasa. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tidak lagi dikelola sebagai dinamika organisasi, tetapi berubah menjadi ketegangan dan saling berhadapan. Dalam kondisi seperti itu, kepemimpinan harus dievaluasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, situasi internal tak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga membuat para kader berada dalam posisi yang saling berhadapan.
Jabatan Amanah, Bukan Milik Pribadi
Nur Isman mengingatkan bahwa jabatan pimpinan merupakan amanah organisasi dan bukan hak pribadi yang harus dipertahankan dengan segala cara.
“Jabatan itu amanah, bukan milik pribadi. Ketika seorang pemimpin sudah tidak mampu membangun kepercayaan dan soliditas, maka mengundurkan diri secara terhormat bukan sebuah kekalahan. Justru itu bisa menjadi bentuk tanggung jawab terhadap organisasi,” katanya.
Ia menegaskan, pemimpin harus mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Jangan sampai kepentingan mempertahankan posisi justru lebih besar daripada kepentingan menyelamatkan organisasi,” ucap Nur Isman.
Buka Ruang untuk Kepemimpinan Baru
Nur Isman secara tegas mendorong lahirnya kepemimpinan baru apabila kondisi internal sudah tidak memungkinkan untuk membangun kembali kepercayaan.
“Kalau seorang ketua sudah tidak mampu menyatukan pengurus dan kader, saya kira harus berani memberikan ruang kepada kepemimpinan baru. Organisasi tidak boleh berhenti hanya karena seseorang ingin mempertahankan jabatan,” tegasnya.
Ia membantah bahwa desakan mundur ini didasari oleh ambisi pribadi untuk mengincar posisi ketua.
“Saya tidak sedang meminta jabatan. Saya bicara sebagai bagian dari pengurus yang ingin organisasi ini kembali sehat. Kalau memang saya dianggap salah, silakan diuji dalam forum organisasi. Tetapi jangan persoalan ini dibiarkan semakin besar,” tuturnya.
Hentikan Konfrontasi Internal
Nur Isman meminta seluruh pihak menghentikan pola komunikasi dan tindakan yang memperbesar konfrontasi di internal organisasi. Ia menekankan bahwa perbedaan sikap politik tidak boleh berubah menjadi permusuhan antarkader.
“Kita boleh berbeda sikap, tetapi jangan menjadi musuh. Kita semua pernah berada dalam rumah yang sama. Hentikan konfrontasi yang tidak produktif dan mari selesaikan persoalan kepemimpinan secara dewasa,” kata Nur Isman.
Menurutnya, energi organisasi akan habis sia-sia jika seluruh sumber daya kader digunakan hanya untuk menghadapi konflik internal.
Desak Ketua Ambil Sikap Melalui Forum Resmi
Nur Isman meminta Ketua PC GP Ansor Kota Bogor untuk mengambil sikap yang paling bertanggung jawab dan tidak mengabaikan situasi yang berkembang.
“Kalau memang masih merasa mendapatkan kepercayaan mayoritas pengurus dan kader, buktikan melalui forum organisasi. Tetapi kalau kepercayaan itu sudah tidak ada, saya meminta dengan hormat untuk mengundurkan diri,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengunduran diri seorang pimpinan tidak boleh dipandang sebagai kekalahan, melainkan langkah berani untuk membuka ruang konsolidasi.
“Mundur bukan berarti kalah. Kadang-kadang mundur adalah keputusan paling berani ketika seseorang menyadari keberadaannya sudah tidak lagi efektif untuk menjaga persatuan,” kata Nur Isman.
Butuh Pemimpin yang Menyatu
Menutup pernyataannya, Nur Isman menegaskan kembali bahwa fokus utama saat ini adalah menyelamatkan masa depan PC GP Ansor Kota Bogor.
“Kita membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul, bukan mempertentangkan. Pemimpin yang mau mendengar, bukan hanya ingin didengar,” kata Nur Isman.
“Yang harus kita selamatkan adalah Ansor, bukan jabatan seseorang. Saya meminta Ketua PC GP Ansor Kota Bogor mempertimbangkan pengunduran diri. Berikan ruang kepada organisasi untuk melakukan konsolidasi.
Kalau memang organisasi masih membutuhkan, biarkan forum yang menentukan. Namun jika kepercayaan sudah hilang, jangan memaksakan diri,” pungkasnya. (Egi)
