JAKARTA | RMN Indonesia
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengusulkan impor kereta rel listrik (KRL) bekas dari Jepang sebagai solusi sementara untuk mengatasi kekurangan rangkaian KRL Jabodetabek.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan opsi tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek sembari perusahaan meningkatkan kapasitas produksi industri perkeretaapian dalam negeri.
โNamun sebagai solusi bridging-nya, untuk pemenuhan sarana pada hari ini yang akan kita utilisasi paling maksimum itu 10 tahun ke depan, itu dengan melakukan impor kereta bukan baru dari Jepang,โ ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Menurut Bobby, kebutuhan penambahan KRL terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah pengguna KRL Jabodetabek. Pada semester I 2026, jumlah penumpang tercatat tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah pengguna harian yang sebelumnya masih di bawah 1 juta orang kini telah mencapai sekitar 1,1 juta penumpang.
Di sisi lain, rata-rata usia kereta yang dimiliki KAI telah mencapai lebih dari 41 tahun. Kondisi tersebut membuat kebutuhan penggantian rangkaian semakin mendesak.
KAI Kekurangan 22 Trainset
KAI memperkirakan kebutuhan KRL Jabodetabek pada 2026 mencapai 105 trainset. Perhitungan tersebut bahkan menggunakan asumsi konservatif 1 juta penumpang per hari, sedangkan jumlah aktual saat ini telah mencapai sekitar 1,1 juta penumpang.
Dari kebutuhan tersebut, sebanyak 89 trainset diperlukan untuk operasional, sementara sisanya merupakan cadangan sekitar 3 persen dan kebutuhan perawatan sekitar 16 persen.
Pada awal 2026, KAI hanya memiliki 102 trainset. Perusahaan juga harus mengonservasi atau memensiunkan 13 trainset pada tahun ini karena faktor usia dan kondisi kereta.
Kondisi tersebut semakin berat karena pengadaan 16 trainset yang diproduksi PT Industri Kereta Api (INKA) mengalami keterlambatan. Dari jumlah tersebut, baru tujuh trainset yang telah beroperasi, sedangkan sembilan lainnya belum diterima KAI meski keterlambatan telah berlangsung lebih dari satu tahun.
โKalau kita masukkan sembilan, di sini, jadi minusnya itu adalah minus 22. Minus 22 trainset. Nah, sementara di tahun ini kami itu harus mengkonservasi itu 13 trainset. Karena usia dan kondisinya,โ ujar Bobby.
Bobby menjelaskan, INKA sebelumnya memproyeksikan mampu memproduksi delapan trainset per tahun untuk memenuhi pesanan tersebut. Namun, realisasinya baru sekitar dua hingga tiga trainset per tahun.
Tujuh Trainset INKA Diperiksa
Selain keterlambatan produksi, KAI juga melakukan pemeriksaan terhadap tujuh trainset buatan INKA yang sebelumnya telah beroperasi.
Pemeriksaan dilakukan setelah KAI menemukan komponen yang berpotensi mengalami fatigue dan dapat mengganggu keselamatan operasional. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan fraktur pada salah satu komponen rangka bawah.
Komponen tersebut masuk kategori no-go item, yakni bagian yang berkaitan langsung dengan aspek keselamatan.
โYang kemarin ini kategorinya itu adalah yang berkaitan dengan no-go item. No-go item itu ada komponen di rangka bawahnya. Di rangka bawahnya memang ditemukan fraktur. Fraktur dari komponen rangka bawahnya,โ kata Bobby.
KAI kemudian melakukan recall terhadap tujuh trainset tersebut dan mengganti komponen yang bermasalah. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode Non-Destructive Test (NDT).
Dua trainset telah dinyatakan tidak memiliki no-go item dan mulai disiapkan kembali untuk operasional. Satu trainset telah dirilis empat hari sebelum rapat, sementara satu lainnya ditargetkan dirilis pada hari rapat. Lima trainset lainnya ditargetkan selesai diperiksa secara bertahap hingga 9 Oktober 2026.
Bobby menyebut komponen yang bermasalah tersebut merupakan produk lokal. KAI kemudian memeriksa komponen dari batch produksi yang sama untuk memastikan tidak terdapat masalah serupa pada rangkaian lainnya.
Impor Jepang Jadi Solusi Transisi
KAI menilai impor KRL bekas dari Jepang dapat menjadi solusi transisi karena waktu pengadaannya relatif lebih singkat dibandingkan KRL baru.
Menurut Bobby, pengadaan KRL baru membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun sejak pemesanan hingga pengiriman. Sementara KRL bekas dapat didatangkan dalam waktu sekitar satu hingga dua bulan.
KRL bekas tersebut diperkirakan masih dapat digunakan sekitar 10 tahun. Dengan demikian, kereta impor diharapkan dapat menutup kebutuhan sementara sampai kapasitas produksi dalam negeri meningkat.
Namun, opsi tersebut juga memiliki sejumlah konsekuensi, seperti kebutuhan refurbishment dan biaya perawatan yang lebih tinggi, risiko ketersediaan suku cadang, serta kebutuhan dispensasi impor barang bukan baru.
Jepang dipilih karena sistem perkeretaapian yang digunakan dinilai sesuai dengan sistem KRL Indonesia.
โKenapa Jepang? Karena sistem perkeretaapian kita di sini itu cocok dengan sistem perkeretaapian yang ada di Jepang. Jadi relnya, lebar jarumnya, kemudian listriknya, LAA-nya, itu kita itu identik sekali dengan Jepang. Kita tidak bisa impor dari tempat yang lain karena memang sistemnya berbeda,โ jelas Bobby.
Produksi Dalam Negeri Tetap Diprioritaskan
Bobby menegaskan impor KRL bukan baru hanya dirancang sebagai solusi sementara. KAI tetap menempatkan penguatan industri dalam negeri sebagai bagian utama dari rencana jangka panjang.
โUsulan action plan, penguatan industri lokal tetap menjadi prioritas kami. Sementara impor KRL bukan baru diperlukan sebagai bridging solusi untuk menjaga ketersediaan sarana pada kita pada saat hari ini,โ katanya.
KAI saat ini membahas integrasi KAI dan INKA bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas, serta memperkuat tingkat kesiapan teknologi dan manufaktur.
KAI juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perhubungan terkait opsi impor KRL bekas, termasuk mengenai kebutuhan dispensasi impor.
Untuk kebutuhan jangka panjang, KAI memproyeksikan kebutuhan KRL Jabodetabek dapat mencapai sekitar 200 trainset hingga 2040 dengan asumsi jumlah penumpang harian tumbuh menjadi 2,5 juta hingga 3 juta orang.
Hingga 2031, sekitar 87 trainset diperkirakan perlu diganti. Sementara kapasitas produksi industri lokal saat ini baru sekitar tiga trainset per tahun.
KAI berharap kapasitas tersebut dapat meningkat menjadi lima trainset per tahun dan kemudian berkembang hingga lebih dari 15 trainset per tahun.
Untuk pengadaan KRL baru, KAI juga menjajaki kerja sama dengan prinsipal luar negeri. Namun, perusahaan mendorong agar kerja sama tersebut dilakukan bersama INKA sehingga transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan penyerapan tenaga kerja dalam negeri dapat tetap berjalan.(hmi)
