JAKARTA I RMN Indonesia
Produk boga bahari Indonesia kembali menunjukkan taringnya di pasar Jepang. Keikutsertaan pelaku usaha Indonesia dalam The 28th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026 di Tokyo menghasilkan potensi transaksi fantastis mencapai USD 198,33 juta atau sekitar Rp3,49 triliun.
Pameran yang digelar pada 19–21 Agustus 2026 di Tokyo Big Sight tersebut menjadi ajang penting bagi eksportir Indonesia untuk memperluas pasar sekaligus menjajaki kerja sama dengan buyer asal Jepang.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menilai capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa produk perikanan Indonesia memiliki daya saing di Negeri Sakura.
Menurutnya, peluang tersebut harus terus dikembangkan, salah satunya dengan mengoptimalkan implementasi Protokol Perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).
“Potensi transaksi pada JISTE 2026 menunjukkan tingginya daya saing produk perikanan Indonesia di Jepang.”
Kemendag menyebut implementasi protokol tersebut membuka peluang lebih besar bagi produk ikan olahan Indonesia melalui kebijakan tarif nol persen.
Tuna Jadi Primadona
Dalam kegiatan business matching antara eksportir Indonesia dan buyer Jepang, tuna dalam berbagai bentuk dan olahan menjadi produk dengan potensi transaksi terbesar.
Tak hanya tuna, sejumlah produk laut lainnya juga mendapat respons positif dari pasar Jepang. Di antaranya gurita, ikan kisu, udang goreng atau ebi fry, cakalang, rajungan, cumi-cumi, sotong, olahan ikan teri atau chirimen, telur ikan atau tobiko, hingga bulu babi atau uni.
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menilai tarif nol persen untuk produk ikan olahan asal Indonesia dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar.
Namun, ia mengingatkan bahwa peluang pasar Jepang harus dibarengi kemampuan pelaku usaha menjaga kepercayaan buyer.
“Pelaku usaha Indonesia perlu menunjukkan komitmen, konsistensi, dan kontinuitas pasokan,” ujarnya.
Menurutnya, kepercayaan mitra Jepang tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga keandalan serta transparansi dalam memenuhi komitmen.
30 Ribu Pengunjung, 14 Perusahaan Indonesia Unjuk Produk
JISTE 2026 diikuti 700 perusahaan dari 19 negara dan berhasil menarik 30.091 pengunjung, naik 7,73 persen dibandingkan penyelenggaraan 2025 yang mencatat 27.932 pengunjung.
Paviliun Indonesia sendiri menempati area 72 meter persegi dan diisi 14 perusahaan Indonesia.
Salah satu hasil konkret dari keikutsertaan Indonesia adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Nirvana Niaga Sejahtera dan Godai Co., Ltd. Jepang.
Keduanya sepakat mengembangkan produk sashimi-grade yellowfin tuna loin dengan potensi transaksi mencapai USD9,6 juta atau sekitar Rp169,25 miliar. Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan bisnis kedua perusahaan pada JISTE 2025.
Manajer Pengembangan Bisnis PT Nirvana Niaga Sejahtera, Andi Faisal, mengatakan partisipasi untuk kedua kalinya memberikan dampak positif terhadap penetrasi pasar Jepang.
“JISTE 2026 sangat efektif memperkuat penetrasi pasar kami di Jepang,” katanya.
Ekspor Olahan Perikanan Justru Tumbuh
Di tengah ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang yang secara keseluruhan mengalami tekanan, sektor produk olahan justru menunjukkan perkembangan positif.
Pada Januari–Juni 2026, ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang tercatat USD173 juta, turun 7,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Penurunan terutama dipengaruhi melemahnya ekspor sejumlah komoditas seperti udang beku dan cakalang.
Namun, ekspor produk olahan perikanan justru melonjak.
Nilainya mencapai USD45,81 juta atau sekitar Rp807,67 miliar, meningkat 29,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Olahan tuna dan cakalang menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD41,12 juta, atau menguasai 89,75 persen pangsa ekspor produk olahan perikanan ke Jepang.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag, Miftah Farid, mengatakan tren lima tahunan ekspor produk olahan perikanan Indonesia pada 2021–2025 juga menunjukkan pertumbuhan rata-rata 10,39 persen.
Karena itu, promosi, diversifikasi produk, peningkatan nilai tambah, serta penguatan daya saing dinilai menjadi kunci untuk menggarap peluang pasar Jepang secara lebih agresif.
Pasar Jepang kini bukan sekadar tujuan ekspor. Dengan potensi transaksi Rp3,49 triliun dan pertumbuhan ekspor olahan perikanan yang mencapai 29,05 persen, Negeri Sakura menjadi salah satu medan strategis bagi produk laut Indonesia untuk naik kelas di pasar global.(Agus )
