Rabu, September 2

JAKARTA | RMN Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas pangan pada Agustus 2026. Tekanan harga tersebut berpotensi masih membayangi daya beli masyarakat ke depan.

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi pada Agustus 2026.

Secara bulanan (month-to-month/MtM), inflasi umum pada Agustus 2026 mencapai 0,21 persen, meningkat dibandingkan dengan deflasi 0,14 persen pada bulan sebelumnya. Dari inflasi tersebut, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar sebesar 0,17 persen.

Sementara secara tahunan (year-on-year/YoY), BPS mencatat inflasi umum mencapai 3,19 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,88 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,13 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi kenaikan harga pangan tersebut.

Pertama, terjadi peningkatan permintaan daging ayam ras akibat kebutuhan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT ke-81 RI, hingga dimulainya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah periode libur sekolah berakhir.

Kedua, produksi sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai rawit dan bawang merah, mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Ketiga, rendahnya curah hujan di mayoritas wilayah Indonesia akibat fenomena El Niño turut memengaruhi produksi sejumlah komoditas pangan.

“Tinggi-rendahnya curah hujan tentunya akan berpengaruh pada budidaya tanaman padi di setiap wilayah Indonesia,” ungkap Ateng dalam konferensi pers rilis BPS, Selasa (1/9/2026).

Faktor El Niño hingga MBG

Kenaikan harga pangan berpotensi berlanjut seiring adanya sejumlah faktor yang dapat meningkatkan tekanan inflasi. Kalangan ekonom menilai program MBG dan fenomena El Niño menjadi dua faktor yang perlu diwaspadai.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Faisal Rachman mengatakan harga pangan berpotensi tetap tinggi akibat program MBG dan fenomena El Niño yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berlanjut hingga awal 2027.

“Program MBG berpotensi meningkatkan permintaan pangan, sehingga menciptakan risiko kenaikan inflasi volatile food [harga pangan bergejolak], kecuali produksi pertanian dan ketahanan rantai pasok membaik secara memadai,” ujar Faisal, Selasa (1/9/2026).

Menurut Faisal, produksi dan rantai pasok pertanian juga menghadapi ancaman akibat anomali cuaca El Niño. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap inflasi.

Selain itu, Faisal melihat pemerintah masih akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga jumlah uang beredar (M2) diperkirakan meningkat. Kondisi tersebut juga berpotensi menambah tekanan terhadap inflasi.

Tim Ekonom Permata memproyeksikan inflasi umum berada di kisaran 3,13 persen pada akhir 2026. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi sebesar 2,92 persen pada akhir 2025.

“Namun, apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan menyebabkan kenaikan harga energi global yang berkepanjangan, inflasi dapat melampaui proyeksi kami saat ini,” jelas Faisal.

Senada, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai MBG dan El Niño berpotensi terus memberikan tekanan terhadap harga pangan.

Terkait MBG, Yusuf mengatakan program berskala besar tersebut dapat menciptakan tambahan permintaan terhadap komoditas pangan sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga.

Namun, menurut dia, persoalannya bukan terletak pada program MBG, melainkan pada kesiapan manajemen pasokan. Jika skema pengadaan tidak dirancang secara komprehensif dan tidak memperhitungkan kontrak pasokan jangka menengah, tambahan permintaan dapat langsung menyerap stok pasar yang terbatas.

“Pengadaan ayam, telur, dan beras harus diperlakukan sebagai perencanaan rantai pasok, bukan pembelian harian. Kontrak perlu dibuat lebih awal dan tersebar ke peternak serta penggilingan di berbagai daerah,” jelas Yusuf kepada Bisnis, Selasa (1/9/2026).

Sementara itu, El Niño dinilai berpotensi menunda musim tanam dan menurunkan produktivitas padi serta hortikultura akibat kondisi cuaca yang lebih kering.

Yusuf mengingatkan, jika inflasi pangan terus bertahan dan merembet pada ekspektasi inflasi hingga memicu kenaikan upah dan tarif jasa, ruang Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneter akan semakin terbatas.

“Untuk menghadapi El Niño, yang penting adalah memastikan air dan produksi. Irigasi, pompanisasi, penyesuaian jadwal tanam, serta benih yang lebih tahan kekeringan perlu dipercepat. Cadangan beras juga harus cukup kredibel sehingga pemerintah bisa melepas stok ketika harga mulai bergerak naik,” tutup Yusuf.

Pemerintah Waspadai Dampak El Niño

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pemerintah mewaspadai dampak fenomena El Niño terhadap harga komoditas pangan hingga energi.

“Gangguan terhadap produksi dan distribusi pangan setelah pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga hingga memerlukan langkah antisipatif yang tepat sejak dini,” kata Purbaya dalam rapat dengan Komisi XI DPR, Selasa (1/9/2026).

Sementara itu, Gubernur Terpilih Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan pengendalian inflasi pangan menjadi salah satu perhatian utama otoritas moneter.

Destry menyoroti kenaikan inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) yang cukup signifikan, dari 2,52 persen secara tahunan (YoY) pada Juli 2026 menjadi 4,06 persen pada Agustus 2026.

Menurut Destry, BI bersama pemerintah pusat dan daerah terus berkoordinasi untuk mengendalikan harga pangan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Jadi memang PR [pekerjaan rumah] kita bersama-sama menjaga stabilitas di harga pangan,” tutupnya.(hmi)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version