Jakarta | RMN Indonesia
Emiten industri udang beku, PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), tengah berada dalam posisi kritis. Perusahaan yang dikaitkan dengan putra bungsu eks Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, ini dilaporkan menanggung beban utang jumbo yang mencapai lebih dari Rp2 triliun, memicu kekhawatiran serius akan kelangsungan operasional perusahaan ke depan.
Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, memberikan sorotan tajam terhadap kondisi keuangan perusahaan tersebut. Menurutnya, kondisi PMMP saat ini sudah sangat sulit untuk dipulihkan.
“Nasib PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) menunggu ‘ajal’ (bangkrut). Perusahaan ini susah ‘diobati’ lantaran sudah terlalu banyak utangnya,” kata Uchok Sky Khadafi di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Uchok menambahkan bahwa perubahan lanskap politik pasca-kepemimpinan Jokowi turut menjadi faktor yang memperkeruh eksistensi bisnis yang ditekuni Kaesang.
“Apalagi, kata dia, saat ini, Jokowi sudah bukan presiden lagi sehingga besar peluang seluruh bisnis yang ditekuni Kaesang, termasuk PMMP bakalan tutup alias gulung tikar. Apalagi Jokowi tidak punya jabatan di pemerintahan. Tidak ada lagi itu power. Sehingga makin sulit PMMP itu diobati untuk menyembuhkan keuangan perusahaan,” tandasnya.
Lebih lanjut, Uchok menilai bahwa fokus Kaesang Pangarep yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi hambatan dalam manajerial perusahaan. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak langsung pada sektor perbankan.
“Selain tak punya bakat bisnis, kata Uchok, Kaesang dinilai terlalu sibuk dengan kegiatan politik. Karena posisinya sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Siap-siap, perbankan yang menggelontorkan utang jumbo ke PMMP merugi. Itu semua akan menjadi kredit macet karena perusahaan udang ekspor yang sebagian sahamnya milik Kaesang, tidak akan bisa terbayar. Saya kira, Kaesang tidak akan serius mengelola seluruh bisnis, karena dia fokus sebagai politikus. Karena posisinya sebagai Ketum PSI,” imbuhnya.
Berdasarkan data keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Minggu (5/7/2026), struktur utang PMMP tersebar di berbagai bank besar. Di Bank Permata, outstanding utang PMMP tercatat mencapai US53,12juta(sekitarRp929,6miliardengankursRp17.500/US), belum termasuk fasilitas tambahan sebesar Rp5,49 miliar.
Kewajiban kepada BCA mencapai US40,29juta (Rp705miliar),kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) sebesarUS30,71 juta (Rp537,4 miliar), serta kepada PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US22,80juta(Rp400miliar).Selainitu, terdapat utang kepada PT Bank Maspion Indonesia Tbk dan PT Bank Resona Perdania masingโmasing sebesarUS7,21 juta dan US$5,99 juta.
Manajemen PMMP dalam laporannya menyebutkan bahwa perseroan sedang menempuh langkah restrukturisasi atas tumpukan utang tersebut yang totalnya melampaui Rp2 triliun, di luar kewajiban bunga.
Kondisi keuangan yang “babak belur” ini telah berdampak pada efisiensi operasional. Saat ini, PMMP dilaporkan hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo, Jawa Timur. Tekanan keuangan tersebut juga memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) serta mundurnya jajaran direksi, termasuk pengunduran diri Patrick Djuanda dari posisi Direktur Pemasaran PMMP. (Fj)
