Denpasar | RMN Indonesia
Anggota Komisi VI DPR RI, Gde Sumarjaya Linggih, memberikan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah dalam menjajaki penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif energi untuk menggantikan ketergantungan pada Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram. Langkah ini dinilai sebagai terobosan strategis untuk menekan beban subsidi negara sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional.
Legislator dari Fraksi Partai Golkar ini menekankan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG saat ini tergolong tinggi. Kondisi tersebut berdampak langsung pada besarnya beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Saya mendukung penuh upaya pemerintah untuk mulai melakukan diversifikasi energi melalui pemanfaatan CNG sebagai alternatif gas rumah tangga. Ini adalah langkah maju yang sangat penting untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap impor LPG yang harganya sangat fluktuatif di pasar global,” ujar pria yang akrab disapa Demer tersebut dalam keterangannya di Denpasar, Kamis (2/7/2026).
Menurut Demer, transisi menuju penggunaan CNG memiliki tiga nilai tambah yang signifikan:
Efisiensi Anggaran: Pemanfaatan sumber gas domestik yang melimpah dapat mengurangi beban subsidi energi secara bertahap dan berkelanjutan.
Kedaulatan Energi: Optimalisasi kekayaan gas alam nasional merupakan langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
Keekonomian Masyarakat: Dalam jangka panjang, CNG diharapkan mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan LPG, yang harganya kerap dipengaruhi oleh fluktuasi pasar internasional.
Penekanan pada Infrastruktur dan Keselamatan
Kendati memberikan dukungan, Demer mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan aspek kesiapan infrastruktur distribusi serta faktor keselamatan bagi pengguna. Ia menekankan perlunya sosialisasi yang masif dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai penggunaan perangkat CNG agar transisi ini berjalan aman dan minim risiko.
“Komisi VI DPR RI akan terus mengawal kebijakan ini. Kami meminta pemerintah untuk memastikan bahwa infrastruktur pengisian hingga konverter kit yang digunakan harus memenuhi standar keamanan tinggi. Jangan sampai transisi ini justru menimbulkan kekhawatiran baru di masyarakat,” tegas Demer.
Ia berharap kementerian terkait dan BUMN pengelola energi dapat bekerja secara terintegrasi agar manfaat diversifikasi energi ini dapat segera dirasakan oleh masyarakat luas. Demer meyakini bahwa dengan dukungan regulasi yang tepat, Indonesia mampu melakukan transisi energi yang efisien tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.
“Ini adalah upaya kita bersama untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri dan kuat. Kita tidak boleh terus-menerus bergantung pada energi impor jika kita memiliki potensi gas alam yang besar di tanah air,” pungkasnya. (Fj)
