Jumat, April 17

TANGERANG | RMN Indonesia

Warga Kampung Sumur Bandung, Kecamatan Jayanti, kembali menggelar aksi protes di depan PT New Hope pada Selasa (2/12/2025).

Mereka menuntut penanganan serius atas bau menyengat, debu, dan kebisingan yang diduga berasal dari aktivitas pabrik pakan ternak tersebut.

Dalam aksi tersebut, warga menyampaikan bahwa kondisi udara di lingkungan permukiman sudah lama mengganggu kenyamanan.

“Bau sangat menyengat dan debu bertebaran sampai ke halaman rumah dan masjid. Kami setiap hari menghirupnya,” ujar salah satu warga dalam orasinya.

Warga lain ikut menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa lagi dibiarkan.
“Kami tinggal di sini, kami yang merasakan langsung dampaknya. Tolong diperbaiki, jangan tunggu kami sakit,” ucap seorang peserta aksi.

Berdasarkan catatan yang ada, Keluhan warga terhadap PT New Hope telah muncul sejak 2023. Pada November tahun itu, warga melaporkan aroma tidak sedap yang diduga berasal dari limbah pabrik, disertai keluhan gatal-gatal pada beberapa warga.

Selain itu, Debu dari aktivitas industri juga dilaporkan mengotori teras rumah dan area publik, Pada awal 2024, masalah serupa kembali muncul. Warga mengadukan bau busuk dari selokan yang diduga tercemar limbah perusahaan hingga membuat mereka merasa sesak napas.

Saat itu, PT New Hope disebut berpotensi mendapat sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Situasi kembali berulang pada awal 2025. Warga mengeluhkan bau menyengat yang muncul pada jam tertentu serta partikel debu kecoklatan yang terbawa angin hingga masuk ke dalam rumah.

“Setiap pagi dinding rumah kami penuh debu. Sudah dibersihkan, nanti datang lagi,” keluh seorang warga dalam laporan terpisah.

Selain polusi udara, warga juga pernah memprotes dampak aktivitas perusahaan terhadap lalu lintas.

Pada Maret 2025, Forum Aliansi Jayanti (FAJ) menggelar unjuk rasa terkait armada perusahaan yang dinilai kerap mengganggu arus kendaraan di Jalan Raya Serang.

Ketegangan meningkat kembali pada November 2025 ketika warga dari beberapa RT menolak rencana perusahaan menyerahkan pengelolaan CSR kepada struktur kejaroan atau RW.

Warga menilai pengelolaan lingkungan dan CSR harus melibatkan masyarakat secara langsung.

“Kami yang merasakan dampaknya, jadi kami ingin duduk langsung dalam pembahasan,” ujar salah satu tokoh warga.

Berdasarkan pantauan dilokasi Aksi pada 02 Desember berlangsung tertib dengan pengamanan aparat.

Warga meminta perusahaan memberikan penjelasan resmi dan segera melakukan upaya perbaikan untuk mengurangi dampak polusi.

Sayangnya Hingga berita ini ditayangkan, pihak manajemen PT New Hope belum memberikan keterangan resmi. (cng)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version