JAKARTA I RMN Indonesia
Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menimbulkan dampak terhadap aktivitas penerbangan nasional. Sebaran abu vulkanik yang memasuki ruang udara menjadi ancaman serius bagi operasional maskapai sekaligus berpotensi memicu kerugian ekonomi dalam jumlah besar.
Asosiasi maskapai memperkirakan gangguan akibat sebaran abu vulkanik tersebut dapat menyebabkan kerugian finansial sekitar Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari.
Jika kondisi berlangsung selama satu pekan, total potensi kerugian bahkan diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp130 miliar.
Sebaran abu vulkanik menjadi persoalan serius bagi dunia penerbangan karena dapat memengaruhi keselamatan dan operasional pesawat.
Maskapai perlu melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari penyesuaian rute penerbangan hingga penundaan atau pembatalan penerbangan di wilayah yang terdampak.
Gangguan tersebut tidak hanya berdampak langsung kepada maskapai.
Penumpang, pengelola bandara, sektor pariwisata, jasa logistik, hingga pelaku usaha yang bergantung pada transportasi udara juga berpotensi terkena imbasnya.
Besarnya potensi kerugian membuat perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan sebaran abu vulkanik menjadi perhatian serius bagi industri penerbangan.
Di tengah kondisi tersebut, keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Maskapai harus memastikan setiap penerbangan dilakukan berdasarkan kondisi ruang udara dan rekomendasi keselamatan yang berlaku.
Apabila sebaran abu vulkanik terus meluas atau gangguan berlangsung lebih lama, nilai kerugian ekonomi yang ditanggung industri penerbangan nasional berpotensi semakin besar.(Agus).
