Jumat, April 17

JAKARTA | RMN indonesia

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pembangunan pendidikan nasional harus berlandaskan prinsip ASRI—aman, sehat, resik, dan indah. Prinsip ini menjadi bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas dan berkarakter.

Menurut Mu’ti, sekolah yang aman dan nyaman harus hadir sebagai ruang belajar yang tertata, bersih, dan menyejukkan. Lingkungan sekolah berperan penting dalam membentuk suasana belajar yang menyenangkan sekaligus menanamkan kebiasaan hidup tertib dan bertanggung jawab pada peserta didik.

“Sekolah yang aman dan nyaman juga harus menjadi sekolah yang asri. Lingkungan yang bersih, sehat, sejuk, dan tertata akan mendukung suasana belajar yang menyenangkan sekaligus membentuk kebiasaan hidup tertib dan bertanggung jawab pada peserta didik,” ujar Mu’ti dalam keterangan resminya, Senin (9/2/2026).

Lebih lanjut, Mu’ti menekankan bahwa sekolah tidak boleh dipahami semata sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan. Sekolah harus menjadi tempat pembentukan keberanian intelektual, ketangguhan spiritual, serta kepekaan sosial siswa sejak dini.

Dalam konteks tersebut, Mu’ti juga menyoroti pentingnya keamanan spiritual di lingkungan sekolah. Peserta didik perlu mendapatkan pendampingan nilai keimanan dan moral secara berkelanjutan agar tumbuh sebagai pribadi yang berintegritas. Pendampingan ini, kata dia, harus dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya melalui hafalan materi pelajaran.

Namun demikian, Mu’ti mengakui masih terdapat tantangan dalam mewujudkan sekolah yang benar-benar aman dan nyaman. Salah satu persoalan yang masih kerap muncul adalah praktik perundungan di lingkungan pendidikan. Karena itu, ia mengimbau seluruh satuan pendidikan untuk menumbuhkan budaya saling menghormati, empati, dan tanggung jawab antarwarga sekolah.

Sebagai bentuk penerapan konkret program ASRI, Mu’ti menyebut sejumlah langkah yang dapat dilakukan sekolah, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, menciptakan ruang kelas yang nyaman, pengelolaan sampah secara bijak, hingga pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

“Sekolah yang aman adalah sekolah di mana anak-anak merasa tenang untuk belajar, berani menyampaikan pendapat, dan tidak takut melakukan kesalahan. Keberanian intelektual ini penting agar rasa ingin tahu anak-anak tetap tumbuh dan difasilitasi,” tegasnya.

Dalam kunjungannya ke SMP–SMA Amanatul Ummah di Jawa Timur, Mu’ti memberikan apresiasi atas praktik pembentukan karakter yang telah diterapkan. Ia menilai pembacaan ikrar yang rutin dilakukan siswa menjadi contoh nyata pembiasaan nilai positif di lingkungan pendidikan.

“Ikrar yang tadi dibacakan itu luar biasa dan sangat mendukung program kami, terutama terkait larangan merokok. Ini bisa menjadi contoh nasional—sekolah model tingkat nasional—di mana ribuan peserta didiknya tidak ada satu pun yang merokok,” ungkap Mu’ti.
(fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version