Senin, Agustus 24

JAKARTA | RMN Indonesia

Fasilitas produksi Ammonia Pabrik-2 milik PT Pupuk Kalimantan Timur bersiap untuk segera beroperasi secara penuh. Kepastian operasional ini diperoleh setelah perusahaan berhasil menyelesaikan seluruh tahapan pengujian kinerja fasilitas selama 168 jam nonstop pada pertengahan Agustus 2026.

Proyek pembaruan ini membawa dampak signifikan terhadap konsumsi energi perusahaan. Tingkat konsumsi energi berhasil ditekan dari 39,28 MMBTU per ton amonia menjadi 35,25 MMBTU per ton, seperti dilansir dari Investor Daily.

Penghematan konsumsi energi sebesar 4,03 MMBTU tersebut berpotensi menekan biaya produksi perusahaan. Penghematan biaya ini diperkirakan mencapai USD 14,3 juta per tahun atau sekitar Rp 228 miliar setiap tahunnya.

Direktur Utama Pupuk Kaltim, Rafli Yandra, menyatakan bahwa selesainya pengujian kinerja menandai kesiapan fasilitas produksi untuk memasuki fase operasional penuh. Langkah modernisasi ini berfokus pada efisiensi operasional dan prinsip keberlanjutan.

“Kami tidak hanya memastikan Ammonia Pabrik-2 kembali beroperasi, tetapi juga menghadirkan kinerja fasilitas produksi yang lebih efisien dan andal,” ujar Rafli Yandra.

“Hasil pengujian kinerja selama 168 jam menunjukkan bahwa seluruh parameter operasional berhasil dipenuhi secara optimal. Keberhasilan ini memperkuat daya saing Pupuk Kaltim sekaligus menegaskan komitmen kami dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Rafli Yandra.

Pengurangan pemakaian energi ini turut membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Efisiensi tersebut diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga 110.000 ton CO2 per tahun untuk mendukung agenda transisi energi menuju Net Zero Emission.

Kapasitas produksi harian pabrik juga mengalami peningkatan selama proses uji coba berlangsung. Pabrik mencatatkan rata-rata produksi 1.841 ton amonia per hari, naik 4,18 persen dibandingkan kapasitas sebelumnya yang sebesar 1.767 ton per hari.

Proses revamping Ammonia Pabrik-2 melibatkan peremajaan teknologi utama seperti shift converter, ammonia converter, dan CO2 removal system. Sistem kontrol juga telah terintegrasi secara digital melalui Distributed Control System untuk pemantauan proses secara langsung.

Proyek modernisasi yang diresmikan sejak Januari 2026 ini berjalan sesuai Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025. Fasilitas ini menjadi proyek pertama yang berhasil dituntaskan dari tujuh komitmen revitalisasi industri pupuk nasional oleh Pupuk Indonesia Group.

“Ke depan, bersamaan dengan proyek strategis lain seperti pembangunan Pabrik Soda Ash di Bontang dan pengembangan kawasan industri pupuk baru, Pupuk Kaltim akan terus meningkatkan efisiensi dan keandalan operasi, sekaligus memperkuat kontribusinya dalam menjaga ketersediaan pupuk dan mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Rafli Yandra. (Fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version