Jumat, April 17

JAKARTA | RMN indonesia

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah (IDR) masih bertahan di kisaran Rp16.800 pada perdagangan terbaru, menunjukkan bahwa tekanan terhadap nilai tukar belum mereda meskipun pasar tengah menunggu sejumlah rilis data ekonomi penting.

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa pergerakan Dolar AS yang relatif kuat ini masih dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat, kondisi pasar keuangan dunia, serta sentimen investor yang cenderung menghindari aset berisiko. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar tetap tinggi.

“Pergerakan dolar terhadap rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan di pasar global, terutama ekspektasi kebijakan moneter The Fed dan gejolak pasar keuangan dunia,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, dalam keterangannya.

Onny menjelaskan bahwa kondisi eksternal jelas memainkan peran dominan dalam menentukan arah nilai tukar, sementara kondisi domestik seperti data neraca perdagangan dan surplus transaksi berjalan juga memiliki dampak tersendiri, meskipun belum cukup kuat untuk mendorong pelemahan dolar secara signifikan.

Menurutnya, di tengah arus modal global yang tidak stabil, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar, sehingga kurs USD/IDR masih bergerak di rentang yang relatif tinggi. “Permintaan terhadap dolar masih kuat, sehingga rupiah belum mampu menguat signifikan terhadap dolar,” ujarnya.

Gubernur BI sebelumnya juga pernah menyampaikan bahwa stabilitas nilai tukar merupakan bagian dari komitmen bank sentral untuk menjaga kondisi ekonomi makro tetap sehat. BI mengaku terus memantau perkembangan nilai tukar dan siap melakukan intervensi jika diperlukan untuk meredam gejolak ekstrem yang berpotensi mengganggu stabilitas harga.

“Intinya kami terus memonitor pergerakan dan akan melakukan langkah kebijakan jika memang diperlukan,” ujar Gubernur BI dalam kesempatan terpisah.

Pelaku pasar menyebutkan bahwa sentimen eksternal lainnya seperti penguatan indeks dolar AS, kekhawatiran investor terhadap resesi global, dan keputusan suku bunga acuan Federal Reserve menjadi faktor utama yang membuat dolar berpotensi lebih tinggi terhadap sebagian besar mata uang di kawasan, termasuk rupiah.

Di sisi domestik, sejumlah analis mencatat bahwa data ekonomi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan arah yang stabil, namun belum cukup kuat untuk menahan tekanan penguatan dolar yang dipicu faktor global.

Dengan situasi seperti ini, para pelaku pasar cenderung tetap waspada terhadap rilis data ekonomi lanjutan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang bisa memengaruhi sentimen pasar dan arah pergerakan kurs di masa mendatang.(fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version