JAKARTA | RMN Indonsesia
Berawal dari komunitas petani di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, beras organik Sirtanio kini berhasil menjangkau pasar internasional. Perkembangan tersebut dibangun melalui proses panjang, mulai dari penguatan produksi, penyelesaian persoalan pascapanen, hingga perluasan akses pasar.
Kisah Sirtanio menjadi salah satu yang diangkat dalam Program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur. Program yang memasuki penyelenggaraan ketiga tersebut mengusung tema “Jelajah Ekonomi Berdaya: Merangkai Kemandirian, Inovasi, dan Keberlanjutan dari Ekosistem Lokal”.
Dalam kegiatan tersebut, tim Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren 2026 mengunjungi sejumlah wilayah di Jawa Timur untuk melihat perkembangan klaster pangan, UMKM, dan pondok pesantren yang mendapatkan pendampingan BI.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, yang menjadi tempat berkembangnya PT Sirtanio Organik Indonesia.
Sirtanio berawal dari Kelompok Tani Mendo Sampurno. Dalam perjalanan hampir dua dekade, kelompok tersebut berkembang menjadi pusat pelatihan pertanian organik sekaligus produsen beras organik kemasan.
Produk beras organik Sirtanio yang terdiri atas beras merah, hitam, dan putih kini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menjangkau sejumlah negara, termasuk Italia, Tiongkok, dan Amerika Serikat.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan keberhasilan komunitas lokal seperti Sirtanio perlu diperkenalkan secara lebih luas agar dapat menjadi referensi bagi pengembangan ekonomi di daerah lain.
“UMKM dan pondok pesantren, utamanya di Jatim untuk mengemuka di wilayahnya. Agar semua pihak bisa belajar. Ada success story, ada insight yang bisa direplikasi di daerah lain. Untuk itu pentingnya acara hari ini bisa kita teruskan dari tahun ke tahun,” ujar Ibrahim.
Berawal dari Persoalan Beras Apek
Perjalanan Sirtanio menuju pasar internasional tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya muncul ketika produk beras organik mulai dipasarkan melalui sejumlah gerai ritel.
Direktur PT Sirtanio Organik Indonesia Shohib Qomad Dillah mengatakan saat awal pemasaran, pihaknya menerima keluhan mengenai kondisi beras yang berbau apek dan mengalami perubahan warna.
“Di beberapa outlet berasnya ada bau apek dan warnanya berubah,” ungkap Shohib.
Menurut Shohib, beras organik memiliki proses oksidasi yang lebih cepat dibandingkan beras konvensional yang menggunakan pestisida kimia. Kondisi tersebut membuat daya simpan menjadi salah satu tantangan yang harus diatasi.
Sirtanio kemudian mendapatkan pendampingan dari BI Jember sejak 2011. Salah satu dukungan yang diberikan berupa mesin pengemasan vakum melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).
Bantuan mesin vakum pertama diterima pada 2013. Seiring perkembangan usaha, Unit Pengemasan Sirtanio kini menggunakan mesin vakum modern double chamber yang memungkinkan produk beras disimpan lebih dari satu tahun.
Pendampingan dari Produksi hingga Pemasaran
Kepala Kantor Perwakilan BI Jember Iqbal Reza Nugraha mengatakan pendampingan terhadap Sirtanio dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sisi produksi hingga pemasaran.
Pendampingan tersebut mencakup penguatan kelembagaan petani, pengembangan jaringan kemitraan, serta penerapan standar budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP).
Di sisi hilir, petani mendapatkan pelatihan digitalisasi keuangan dan dukungan sarana prasarana. BI juga membantu memperluas akses pasar melalui pameran dan business matching.
“Kami memfasilitasi berbagai pameran, baik yang diselenggarakan BI maupun pemerintah daerah, termasuk business matching penjualan. Pengalaman suksesnya, Sirtanio mampu memperluas pasar ekspornya ke Italia pada tahun 2019, serta mendapatkan kemudahan akses business matching pembiayaan,” jelas Iqbal.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuwangi, produksi beras di daerah tersebut mencapai 255.257 ton pada semester pertama 2026. Dari jumlah tersebut, surplus beras tercatat sekitar 174.000 ton.
Sementara itu, produksi beras organik tercatat sekitar 765,15 ton. Angka tersebut menunjukkan porsi produksi beras organik masih relatif kecil dibandingkan total produksi beras Banyuwangi.
Berpotensi Dukung Ketahanan Pangan
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan sektor pertanian memiliki peran penting bagi perekonomian masyarakat di wilayahnya.
“Sektor pertanian di Banyuwangi itu menyumbang 26% lebih bagi PDRB, tetapi jika mengukur dari mata pencaharian masyarakat, total ada sekitar 40 % warga yang bekerja di sektor pertanian. Jadi kontribusinya sangat besar,” ujar Ipuk.
Menurutnya, Banyuwangi akan terus mempertahankan peran sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur. Pengembangan sektor pertanian juga diarahkan melalui tata kelola dan kemitraan yang mendukung produktivitas petani.
“Pertanian sudah menjadi ciri khas masyarakat kami. Itu yang akan kami pertahankan,” katanya.
Pengembangan Sirtanio menunjukkan bagaimana komunitas petani dapat berkembang melalui penguatan produksi, teknologi pascapanen, pendampingan kelembagaan, serta perluasan pasar.
Dengan dukungan berbagai pihak, produk pertanian berbasis komunitas lokal tersebut kini mampu menjangkau pasar internasional sekaligus membuka peluang pengembangan pertanian organik di Banyuwangi.(hmi)
