Bogor | RMN Indonesia
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengajak mahasiswa memahami dan menanamkan nilai-nilai nasionalisme sebagai fondasi membangun bangsa yang kuat di tengah tantangan global, mulai dari radikalisme, perang ekonomi, hingga perebutan pengaruh antarnegara.
Pesan tersebut disampaikan Nusron saat menjadi pembicara utama pada pembukaan Diklat Pratama se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (DPP GMPK) di Bogor, Jawa Barat, Rabu.
“Tujuan nasionalisme adalah menjadikan kita bangsa yang kuat. Namun, kalau kita tidak memahami seperti apa bangsa yang kuat, kita akan keliru mendefinisikan format nasionalisme yang ingin kita bangun,” kata Nusron.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Nasionalisme Abad ke-21: Menjawab Tantangan Radikalisme, Perang Ekonomi, dan Perebutan Pengaruh Global”, Nusron mengatakan kekuatan suatu bangsa pada era modern tidak lagi hanya ditentukan oleh sistem pemerintahannya, tetapi juga oleh kemampuan menghadapi berbagai tantangan global.
Mengutip teori John Mearsheimer, ia menjelaskan negara yang kuat harus ditopang oleh tiga pilar utama, yakni ketahanan pangan, kemandirian energi, dan penguasaan teknologi.
“Jangan hanya berbicara nasionalisme, tetapi bangun ketahanan pangan, kemandirian energi, dan kemampuan menguasai teknologi. Tanpa itu, bangsa akan mudah bergantung kepada negara lain,” ujarnya.
Menurut Nusron, ketiga pilar tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung sumber daya manusia yang unggul. Oleh karena itu, upaya membangun nasionalisme perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas intelektual generasi muda.
Di hadapan Sekretaris Dewan Pembina DPP GMPK H. Chusni Mubarok dan sekitar 200 peserta diklat, Nusron mendorong mahasiswa terus meningkatkan kapasitas intelektual karena mereka memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa pada masa mendatang.
“Perubahan di dunia itu selalu didahului dengan kebangkitan kaum intelektualnya. Ketika cara berpikir mahasiswa sudah benar, maka saat mereka menjadi birokrat, politisi, pengusaha, maupun profesional, cara berpikir itu akan ikut membentuk kemajuan bangsa,” katanya.
Menutup pemaparannya, Nusron mengajak peserta diklat untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat semangat kebangsaan, serta mengambil peran sebagai generasi yang mampu menghadirkan gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa.
Kegiatan pembukaan Diklat Pratama se-Indonesia Angkatan I DPP GMPK tersebut turut dihadiri Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol Kementerian ATR/BPN Achmad. (Fj)
