Kamis, Agustus 27

JOMBANG I RMN Indonesia

KH Ma’ruf Amin menegaskan pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) harus berlangsung sesuai mekanisme organisasi dan bebas dari intervensi maupun kepentingan pihak tertentu.

Menurutnya, anggota AHWA harus dipilih oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) berdasarkan kapasitas serta kualitas calon, bukan karena adanya pesanan atau kemauan kelompok tertentu.

“Mekanisme AHWA itu dipilih oleh cabang (PCNU) dan wilayah (PWNU) dengan memilih orang yang terbaik dari yang ada. Bukan kemauan pihak tertentu, pesanan. Itu bukan AHWA,” ujar KH Ma’ruf, seperti dikutip NU Online.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah kriteria yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi anggota AHWA.

Di antaranya mempunyai kapasitas keilmuan dan pengetahuan agama yang memadai, bersikap warak, serta tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan maupun hal-hal yang tidak baik.

“Syarat menjadi AHWA, seorang ulama yang memiliki pengetahuan, kapasitas keilmuan yang cukup, warak, dan tidak dipengaruhi hal-hal yang tidak baik,” tuturnya.

Karena itu, KH Ma’ruf meminta proses pemilihan benar-benar mengacu pada kriteria tersebut.

Peserta yang memiliki hak memilih diharapkan menentukan sosok yang paling memenuhi persyaratan dan memiliki kualitas terbaik.

“Memilih sesuai dengan kriteria, artinya memilih yang paling afdhol daripada yang ada,” katanya.

Selain menyoroti mekanisme pemilihan AHWA, KH Ma’ruf juga mengingatkan agar praktik politik uang atau money politic tidak mencederai proses pemilihan kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, praktik tersebut tidak pantas terjadi dalam organisasi keagamaan sebesar NU.

Ia meminta seluruh peserta Muktamar Ke-35 NU mengedepankan hati nurani dalam menentukan pilihan.

“Ya kita harapkan itu tidak ada, jangan ada. Karena tidak layak kalau NU, kalau partai mungkin pantaslah, tapi kalau NU iya enggak pantaslah,” ujarnya.

KH Ma’ruf berharap seluruh rangkaian Muktamar Ke-35 NU dapat berjalan lancar, demokratis, dan jauh dari praktik-praktik yang dinilai tidak terpuji.

Ia juga berharap forum tertinggi organisasi tersebut mampu menghasilkan pemimpin sesuai harapan warga Nahdliyin.

“Harapannya Muktamar ini berjalan dengan baik, tidak ada apa-apa, menghasilkan pemimpin yang memang diharapkan.

Dan juga tidak ada yang berjalan dengan tidak terpuji, tidak baik, semuanya berjalan dan semua memilih pemimpinnya sesuai dengan hati nurani, sesuai dengan tuntunan para ulama,” katanya.

Muktamar Ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Muktamar dijadwalkan dibuka oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Muktamar merupakan forum tertinggi Nahdlatul Ulama untuk menentukan kepemimpinan, termasuk Ketua Umum PBNU dan Rais Aam.

Selain agenda pemilihan pemimpin, forum tersebut juga menjadi ruang pembahasan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan yang berkembang di tengah warga NU.(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version