JAKARTA | RMN Indonesia
Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) diingatkan agar tidak turut melanggengkan kerusakan alam akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan tambang.
Peringatan ini disampaikan usai banjir besar melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, yang menelan ratusan korban jiwa.
Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menyampaikan pesan Megawati terkait ancaman monokultur seperti sawit dalam Konferensi Daerah PDIP Kalteng di Palangka Raya, kemarin.
“Jangan mudah alih fungsi hutan, kemudian diubah menjadi sawit, sawit itu tanaman yang paling arogan, dia menghabiskan air, tapi tidak bisa menyerap air,” tutur Djarot dalam sambutannya.
Ia menanggapi pernyataan pejabat negara yang menyamakan sawit dengan pohon lainnya.
“Sama-sama pohon, tapi beda sawit dengan kayu besi, kayu meranti, kelapa, yang beragam, itu beda. Perusahaan-perusahaan sawit itu bukan rakyat yang memiliki, tapi kelompok tertentu,” katanya.
Djarot meminta kader PDIP di Kalteng yang menduduki jabatan penting untuk menjaga kelestarian alam dan menolak praktik perusakan lingkungan.
“Jangan kau babat habis hutan ini, akan hancur semuanya. Hulunya Sungai Kahayan itu di Gunung Mas, hulunya Sungai Barito itu di Murung Raya, jaga semua,” ujar Djarot.
Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak sembarangan memberi izin alih fungsi hutan.
“Tolong izin-izin itu dijaga betul, jangan mudah alih fungsi, kemudian diubah jadi sawit, dibuka jadi tambang,” ujarnya.
Sebagai partai yang mengaku memperjuangkan wong cilik, Djarot menegaskan pentingnya membela kepentingan publik, bukan kekuasaan semata.
“Sebentar lagi ulang tahun PDIP, Bu Megawati memerintahkan kita untuk tanaman pohon, rawat sungai, rawat sumber-sumber air, karena berpolitik itu menyangkut masalah kehidupan, tak sekadar mencari kekuasaan dan memperkaya diri sendiri,” tegasnya.(Fj)
