Minggu, September 6

JAKARTA I RMN Indonesia

Budayawan Mohamad Sobary menanggapi pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang mengingatkan para pemegang kekuasaan agar tidak menggunakan jabatan untuk menyakiti maupun menjatuhkan orang lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Falah Sumberadi, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Jokowi ketika itu mengutip petuah Jawa, “Lamun siro sekti, ojo mateni”, yang dimaknainya sebagai nasihat agar seseorang yang memiliki kekuatan tidak menggunakannya secara sewenang-wenang.

Menurut Jokowi, kekuasaan dan jabatan pada dasarnya hanya bersifat sementara sehingga harus dijalankan dengan bijaksana.
“Kekuasaan itu hanya sementara. Kekuasaan itu hanya sak detik. Jabatan itu hanya sampiran,” kata Jokowi.

Namun, nasihat tersebut justru mendapat respons keras dari Mohamad Sobary. Ia menilai pesan tentang kekuasaan dan larangan menyakiti orang lain semestinya juga menjadi bahan introspeksi bagi Jokowi sendiri.

“Kuat kau melakukan omonganmu itu? Kamu sakti jangan mateni orang,” kata Sobary, dikutip dari Podcast Madilog Forum Keadilan, Sabtu (5/9/2026).

Sobary menilai selama masa pemerintahan Jokowi terdapat banyak orang yang menurutnya mengalami perlakuan tidak adil.

“Berapa wartawan yang kau kirim ke penjara? Aktivis-aktivis berapa yang kau kirim ke penjara? Apa itu tidak mateni orang?” sentil Sobary.

Ia kemudian menyinggung kasus yang melibatkan dua figur, yakni dokter Tifauzia Tyasuma atau dr. Tifa dan Roy Suryo, yang diketahui pernah berurusan dengan aparat penegak hukum terkait polemik dan gugatan mengenai keabsahan ijazah S1 Jokowi.

“Masih kuat kau mau ngomong seperti itu?” tanya Sobary.
Pernyataan Sobary tersebut menjadi kritik terbuka terhadap pesan Jokowi mengenai penggunaan kekuasaan. Bagi Sobary, nasihat agar pemegang kekuasaan tidak menyakiti orang lain seharusnya tidak hanya ditujukan kepada penguasa yang sedang memegang jabatan, tetapi juga menjadi refleksi atas penggunaan kekuasaan pada masa lalu.

Sementara itu, pesan Jokowi mengenai sifat sementara kekuasaan kembali mengingatkan bahwa jabatan politik pada akhirnya akan berakhir. Karena itu, menurutnya, kekuasaan semestinya digunakan secara bijaksana dan tidak menjadi alat untuk merugikan pihak.(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version