Jumat, April 17

JAKARTA | RMN Indonesia

Anggota DPR RI dari fraksi NasDem Arif Rahman menilai tidak logis dan cacat logika isu penggabungan antara partainya dengan Gerindra seperti diberitakan majalah ternama.

“Ini di luar nalar,” ujar Arif kepada awak media, Selasa (14/4).

Legislator Komisi IV itu mengatakan NasDem sudah berdiri sejak 2011.

Berbagai pengorbanan telah dilakukan kader, sehingga tidak mungkin terjadi peleburan begitu saja dengan Gerindra.

“Bagaimana mungkin Partai NasDem yang sudah didirikan 15 tahun lalu dan penuh pengorbanan harus dilebur hanya karena tidak menjadi bagian dari koalisi pemerintah,” lanjut Arif.

Legislator Dapil I Banten itu menyebutkan NasDem bukan pula entitas bisnis seperti perseroan terbatas terbuka (Tbk) yang mudah digabungkan begitu saja.

Sebab, kata dia, NasDem memiliki tanggung jawab politik terhadap jutaan pemilih yang memberikan mandat pada Pemilu 2024.

“Partai NasDem bukan PT Tbk. Kami punya pertanggungjawaban terhadap rakyat yang memilih kami, sebanyak 14.660.516 suara atau 9,6 persen pada Pemilu 2024,” ujar Arif.

Toh, kami juga dia, basis kader NasDem berasal dari beragam latar belakang organisasi kemasyarakatan (ormas), yang tak bisa digambarkan dengan mudah untuk peleburan partai.

“Jadi, tidak bisa disederhanakan seperti tuduhan dalam cover majalah Tempo yang bertajuk PT NasDem Indonesia Raya Tbk,” ujar Arif.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Pimpinan Nasional (MPN) Pemuda Pancasila itu menyinggung kedekatan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden RI sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Menurutnya, hubungan personal yang telah terjalin puluhan tahun lalu, tidak bisa ditarik sebagai kesimpulan adanya rencana peleburan kedua partai.

“Kalau hubungan baik itu ditafsirkan sebagai peleburan, maka itu cacat logika,” ujar Arif.

Aktivis 1998 itu menyebutkan majalah yang memberitakan peleburan partai seharusnya mengedepankan kaidah jurnalistik, khususnya prinsip cover both sides, dalam menyajikan informasi ke publik.

“Informasi yang masih sumir harus diuji kebenarannya dengan konfirmasi kepada pihak terkait, bukan langsung diinterpretasikan,” kata Arif.

Bendahara Umum PB IKA PMII itu juga mempertanyakan motif publikasi laporan peleburan NasDem dan Gerindra yang momennya baru diungkap saat ini.

“Pertemuan Pak Surya Paloh dan Pak Prabowo disebut terjadi pertengahan Februari, tapi kenapa baru diterbitkan sekarang? Ada motif apa di balik semua ini,” ujar Arif. (fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version