Sabtu, April 18

TANGERANG | RMN indonesia

Pencemaran berat di Sungai Cisadane yang melintasi wilayah Tangerang Raya kini memantik kekhawatiran serius terkait potensi risiko kanker dan gangguan kesehatan jangka panjang bagi warga di sekitarnya. Peringatan itu disampaikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menyusul temuan ikan mati mendadak dan indikasi zat kimia berbahaya menyebar di sungai.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, mengingatkan warga di bantaran Cisadane — termasuk wilayah Cisauk, Teluknaga, Kosambi, Pakuhaji, hingga Sepatan — untuk tidak mengonsumsi ikan sungai yang terpapar bahan kimia. Ia menilai paparan residu pestisida dapat membawa dampak kesehatan fatal bila zat kimia itu masuk ke dalam tubuh manusia.

“Kalau risiko jangka panjang zat kimia ini salah satunya menimbulkan kanker, kalau masuk ke lambung jadi kanker usus,” ujar Hendra. Ia menekankan bahwa zat kimia dapat menumpuk di tubuh jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang, sehingga meningkatkan potensi timbulnya penyakit berat seperti kanker.

Peringatan itu muncul setelah kebakaran besar di gudang penyimpanan pestisida di kawasan Taman Tekno, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan pada Senin (9/2/2026). Kebakaran tersebut menyebabkan limbah pestisida terbawa arus air dan mengalir masuk ke Sungai Cisadane serta anak-anak sungainya. Akibatnya, ikan terlihat mengambang mati dan bau mencurigakan tercium di sepanjang aliran sungai.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang telah melakukan uji kualitas air Sungai Cisadane untuk mengetahui sejauh mana cemaran kimia telah tersebar. Uji ini dilakukan dengan mengambil sampel air di hilir sungai yang meliputi beberapa kecamatan di Kabupaten Tangerang. Proses pemeriksaan laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua pekan.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan air Sungai Cisadane sampai kondisi tercemar dapat dipastikan aman oleh otoritas. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, mengatakan warga juga diminta memantau informasi resmi dari instansi terkait tentang perkembangan kualitas lingkungan.

Persoalan ini tak hanya soal ikan atau konsumsi langsung, tetapi juga potensi paparan zat kimia melalui air jika digunakan tanpa pengolahan yang memadai. Pemerintah daerah dan BPBD terus menyampaikan imbauan agar masyarakat berhati-hati, memperhatikan perubahan kualitas air sumur di lingkungan masing-masing, serta segera mendapatkan pertolongan medis jika mengalami gejala paparan seperti iritasi kulit, gangguan pernapasan, atau mata perih.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Raden Muhammad Jauhari turut turun langsung ke bantaran sungai untuk memastikan dampak pencemaran terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Ia kembali mengimbau warga agar tidak mengonsumsi ikan yang mati atau air sungai yang terindikasi terkontaminasi.

Perusahaan daerah air minum (Perumdam TKR Kabupaten Tangerang) memastikan bahwa air bersih yang disalurkan kepada pelanggan tetap layak konsumsi karena telah melalui proses pengolahan dan pengujian laboratorium sesuai standar kualitas air minum.

Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie meminta Dinas Kesehatan setempat menyiagakan puskesmas untuk melakukan deteksi dini serta memberikan penanganan bagi warga yang menunjukkan gejala keracunan akibat paparan zat kimia pestisida.

Dengan serangkaian imbauan dan langkah antisipatif tersebut, pemerintah daerah berharap masyarakat tetap waspada dan mematuhi anjuran untuk sementara waktu menghindari konsumsi biota air dari sungai hingga hasil pemeriksaan laboratorium resmi menyatakan kondisi aman.(fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version