Sabtu, April 18

JAKARTA | RMN indonesia

Di tengah dinamisnya arus perdagangan global, potensi ekspor komoditas unggulan Indonesia terus dipacu. Senior Advisor Indonesia Export Channel (IEC), Denny Charter, menyatakan dukungannya terhadap penguatan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), khususnya pada sektor kopi dan kakao.

​Langkah strategis ini dinilai krusial mengingat Amerika Serikat merupakan salah satu pasar tradisional terbesar bagi produk perkebunan tanah air.

​”Kami di Indonesia Export Channel mendukung penuh setiap langkah diplomasi dan negosiasi dagang antara RI dan AS. Kemudahan akses pasar ke Negeri Paman Sam akan berdampak langsung pada urat nadi ekonomi akar rumput, terutama bagi para petani kopi dan kakao,” ungkap Denny Charter di Jakarta.

​Mewadahi Eksportir Menengah dan Petani Rakyat
​Sebagai informasi, Indonesia Export Channel (IEC) adalah asosiasi profesional yang menaungi eksportir skala menengah ke bawah. Anggota IEC tersebar dari ujung barat hingga timur Indonesia, yang mayoritasnya merupakan entitas bisnis rintisan serta kelompok tani rakyat.

​Sekretaris Jenderal IEC, Dwi Rayindra Marchiano, menjelaskan bahwa kopi dan kakao adalah dua produk andalan anggota asosiasi. Melalui pembinaan intensif, IEC telah membuktikan kapasitasnya dalam menembus pasar internasional.

​”Kualitas produk petani kita berskala internasional. Member kami sudah rutin mengekspor ke berbagai negara seperti Rusia, Belarus, daratan Eropa, hingga Amerika Serikat,” papar Ray. Ia juga menekankan pentingnya perjanjian dagang yang lebih longgar, seperti pengurangan tarif atau simplifikasi sertifikasi organik, untuk membantu eksportir kecil memangkas biaya logistik dan birokrasi.

​Potensi Pasar: Kopi dan Kakao RI di Amerika Serikat

​Dukungan IEC didasarkan pada data statistik yang menunjukkan betapa dominannya serapan pasar AS terhadap komoditas Indonesia:
​Komoditas Kopi: AS merupakan tujuan utama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Semester I-2025 mencatat volume ekspor kopi Indonesia ke AS mencapai 30,8 juta kilogram dengan nilai US$ 190,9 juta.

Angka ini memposisikan AS sebagai pembeli kopi nomor satu Indonesia.
​Komoditas Kakao: Pada tahun 2023, nilai ekspor kakao ke AS menyentuh US$ 174,48 juta (sekitar 14,56% dari total pangsa ekspor kakao RI), menjadikan AS salah satu importir terbesar bagi industri cokelat nasional.

​Harapan untuk Kesejahteraan Petani
​Denny Charter optimis bahwa perjanjian bilateral yang saling menguntungkan akan membuat volume ekspor meroket.

​”Pasar AS sangat menghargai specialty coffee dan fine cacao. Ini peluang emas Kami berharap kerja sama RI-AS ke depan benar-benar pro-petani. Jika regulasi ekspor lebih bersahabat, kesejahteraan petani rakyat yang tergabung di IEC otomatis akan meningkat pesat,” pungkas Denny. (fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version