Senin, September 7

JAKARTA I RMN Indonesia

Bursa calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU periode 2026-2031 mulai menjadi sorotan.

Sejumlah nama besar disebut-sebut masuk dalam pembicaraan, sementara Gus Kikin masih melakukan pertimbangan sebelum menentukan sosok yang akan mendampinginya mengelola roda organisasi.

Ketua Umum PBNU terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebelumnya menyatakan akan melakukan istikharah untuk menyempurnakan susunan kepengurusan PBNU.

Berbeda dengan posisi Sekjen yang masih menjadi teka-teki, Gus Kikin telah menyampaikan nama Gudfan Arif sebagai Bendahara Umum PBNU periode 2026-2031.

Penetapan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (4/9/2026), didampingi Asrorun Ni’am Sholeh dan Gudfan Arif.

Kini, kursi Sekjen menjadi salah satu posisi yang paling menarik perhatian.

Sejumlah nama mulai diwacanakan, antara lain Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Nusron Wahid, Lukman Edy, hingga Syamsul Maarif, Ketua PWNU DKI Jakarta.

Namun, di tengah munculnya sejumlah nama tersebut, Gus Kikin juga mendapat pesan agar tidak terburu-buru menentukan pilihan.

Peringatan soal “Matahari Kembar”
Direktur Eksekutif CSIIS sekaligus dosen Pascasarjana Insuri Ponorogo, Dr M Sholeh Basyari, menilai posisi Sekjen sangat strategis sehingga harus diisi sosok yang tepat.

Dalam tulisannya, Sholeh menyebut penasihat politik Gus Kikin, Kacung Marijan, mengingatkan agar Gus Kikin tidak mengulang persoalan yang pernah terjadi pada kepemimpinan Yahya Cholil Tsaquf.

Peringatan tersebut berkaitan dengan potensi munculnya Sekjen yang merasa memiliki jasa besar terhadap kemenangan ketua umum dalam muktamar.

Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi itu dinilai bisa melahirkan fenomena “matahari kembar” di tubuh PBNU.

Artinya, Sekjen jangan sampai berkembang menjadi pusat kekuatan alternatif yang berhadapan dengan ketua umum.

Karena itu, Gus Kikin dinilai perlu mengutamakan kapasitas, loyalitas organisasi, dan kemampuan bekerja dalam satu garis kepemimpinan dibanding sekadar mempertimbangkan besarnya nama kandidat.

Disarankan Belajar dari Cak Imin
Sholeh juga menyarankan Gus Kikin melihat pengalaman Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dalam menentukan figur Sekjen.

Menurutnya, Sekjen merupakan posisi sentral yang membutuhkan sosok dengan kemampuan organisasi sekaligus mampu menjaga soliditas internal.

Sholeh kemudian menyebut Hasanuddin Wahid atau Cak Udin sebagai gambaran tipe Sekjen yang dinilai ideal.

“Gus Kikin idealnya tidak terpengaruh oleh nama-nama besar untuk dipertimbangkan sebagai Sekjen,” tulis Sholeh.

Ia juga menilai Gus Kikin perlu menjaga independensinya dari berbagai kepentingan dan intervensi dalam penentuan Sekjen, termasuk dari internal struktur NU.

Sebagai cicit Hadratus Syeikh, Gus Kikin diyakini memiliki kapasitas dan independensi untuk menentukan sendiri sosok yang paling sesuai dengan kebutuhan PBNU.

Kabinet Gus Kikin Ditunggu
Selain Sekjen, publik juga menanti seperti apa komposisi kabinet PBNU di bawah kepemimpinan Gus Kikin.

Sholeh menilai kemenangan Gus Kikin harus dipandang sebagai kemenangan seluruh warga Nahdliyin.

Karena itu, kepengurusan baru idealnya merangkul berbagai kekuatan, kubu, dan potensi yang ada di tubuh NU.
Dengan demikian, PBNU di bawah Gus Kikin diharapkan menghadirkan wajah organisasi yang lebih segar, terbuka dan mengedepankan persatuan.

Sebaliknya, jika tidak dilakukan, muncul kekhawatiran kabinet Gus Kikin hanya menjadi “face off” dari kabinet hasil Muktamar Lampung.

Sholeh menyoroti sejumlah nama yang masih menempati posisi penting, termasuk Miftahul Akhyar dan Gudfan Arif.

Kini, keputusan berada di tangan Gus Kikin.
Siapa yang akan dipilih menjadi Sekjen PBNU akan menjadi salah satu penentu arah kepengurusan periode 2026-2031.

Bukan hanya soal siapa yang paling kuat namanya, tetapi siapa yang paling mampu menjadi tangan kanan ketua umum tanpa berubah menjadi “matahari kembar”.(Agus).

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version