JAKARTA | RMN Indonesia
Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali menilai elektabilitas partainya sebesar 4,1 persen dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) belum mencerminkan target politik yang hendak dicapai pada Pemilu 2029.
Ahmad Ali mengatakan PSI tetap mensyukuri kenaikan dukungan tersebut. Namun, angka 4,1 persen tidak ingin dijadikan alasan bagi kader untuk berpuas diri.
“Kalau melihat angka 4,1 persen, tentu kami bersyukur karena ada pertumbuhan kepercayaan publik kepada PSI,” kata Ahmad Ali dalam keterangannya, dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurut dia, angka tersebut justru menjadi pemacu bagi PSI untuk meningkatkan kerja politik. Partai itu, kata Ahmad Ali, telah memasang target yang lebih tinggi, yakni menang besar pada Pemilu 2029.
“Tetapi bagi kami, itu masih terlalu kecil. Target kami menang besar. Karena itu kerja partai tidak boleh berhenti pada hasil survei,” ujarnya.
PSI Tak Mau Terlena
Ahmad Ali mengatakan persaingan politik menuju Pemilu 2029 akan semakin ketat. Menurut dia, masyarakat memiliki banyak pilihan sehingga partai politik harus mampu membangun kepercayaan melalui kerja nyata.
“Lanskap politik hari ini sangat kompetitif. Publik memiliki banyak pilihan. Karena itu, tugas kami adalah memastikan PSI hadir dan bekerja di tengah masyarakat,” katanya
Ia menilai elektabilitas tidak bisa dibangun hanya dengan slogan dan kampanye. Dukungan publik, kata dia, merupakan hasil dari kerja politik yang konsisten.
“Dukungan tidak datang karena slogan, tetapi karena kepercayaan yang dibangun melalui kerja yang konsisten,” ujar Ahmad Ali.
Karena itu, PSI kini memusatkan perhatian pada konsolidasi internal dan penguatan struktur organisasi. Hasil survei, menurut dia, hanya menggambarkan posisi politik partai pada satu periode.
“Survei memberi gambaran tentang posisi kita hari ini. Tetapi pemilu ditentukan oleh kerja panjang,” kata dia.
Ahmad Ali mengatakan PSI akan memperluas konsolidasi kader dan memastikan agenda partai lebih banyak dirasakan masyarakat.
Ia juga meminta kader tidak terlena dengan kenaikan elektabilitas menjadi 4,1 persen.
“Saya selalu sampaikan kepada kader bahwa angka 4,1 persen tidak boleh membuat kita puas,” ujarnya.
Survei IPO Beri Gambaran Berbeda
Di sisi lain, hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 menunjukkan angka elektabilitas PSI yang berbeda.
Dalam simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI, PSI hanya memperoleh 1,9 persen suara.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan aktivitas politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi sejauh ini belum memberikan dampak elektoral signifikan terhadap PSI.
Padahal, tingkat pengenalan publik terhadap PSI tergolong cukup tinggi. Sebanyak 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI.
“Namun, tingkat pengenalan tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat keterpilihan. Dalam simulasi yang sama, PSI hanya meraih 1,9 persen suara,” kata Dedi.
Menurut Dedi, peluang PSI untuk meningkatkan elektabilitas menuju Pemilu 2029 masih terbuka. Ia menilai aktivitas politik Jokowi yang belakangan melakukan roadshow di sejumlah daerah masih perlu dilihat dampaknya dalam jangka lebih panjang.
“Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik,” ujar Dedi.
Perbedaan angka dalam dua survei tersebut menunjukkan bahwa perjalanan PSI menuju target Pemilu 2029 masih panjang. Bagi Ahmad Ali, angka survei saat ini bukan garis akhir, melainkan pijakan untuk mengejar target yang lebih besar.
“Target kami jelas, menang besar dan menjadi kekuatan politik yang semakin relevan bagi masa depan Indonesia,” kata Ahmad Ali.
Berikut peringkat elektabilitas partai berdasarkan survei IPO:
Gerindra: 17,5 persen
PDI Perjuangan: 12,8 persen
Golkar: 10,4 persen
Demokrat: 8,1 persen
PKB: 7,0 persen
PAN: 5,1 persen
PKS: 4,6 persen
NasDem: 4,4 persen
PSI: 1,9 persen (Fj)
