JAKARTA | RMN indonesia
Pengamat politik Universitas Terbuka (UT) Insan Praditya Anugrah menilai bahwa dinasti politik Jokowi berbahaya karena dapat menjauhkan Indonesia dari demokrasi lebih jauh lagi.
“Selama ini Jokowi hanya menguntungkan elit dengan topeng kesederhanaan dirinya dan keluarga,” kata Insan kepada Harian Merdeka, Selasa (3/2/2026).
Insan menyebut jika melihat rekam jejaknya, besar kemungkinan ia menjadikan rakyat kecil sebagai mesin penghasil suara untuk kelanggenan eksiatensi keluarganya di kancah politik nasional tanpa memikirkan kesejahteraan masyarakat.
“PSI selama ini merupakan partai yang strukturnya rapuh karena tidak memiliki kedekatan dengan masyarakat di akar rumput. Oleh karena itu, mereka butuh Joko Widodo yang sangat populer hingga ke pelosok,” ucapnya.
Dari sisi Jokowi, partai politik seperti PSI dibutuhkan sebagai mesin politik yang membantu keluarganya membangun dinasti dan tetap berada di lingkar elit kekuasaan nasional.
“Kita sebagai rakyat Indonesia tidak boleh lupa bahwa Joko Widodo adalah sosok yang menjauhkan Indonesia dari tren demokrasi,” pungkasnya.
“Kita tahu bahwa indeks demokrasi Indonesia terus-menerus menurun. Di tahun 2018, misalnya, Freedom House mencatat bahwa kita memiliki skor indeks demokrasi 64, kemudian turun ke 62 pada 2019, dan di era-era akhir pemerintahan Joko Widodo tahun 2023, menurun lagi ke 59 dan menurun lagi ke angka 58 pada tahun 2024,” sebutnya.
Menurut dia, kita juga tidak boleh lupa berbagai macam manuver yang tidak demokratis untuk memberangus lawan politik, pelibatan militer dalam berbagai aktivitas sipil maupun di kegiatan ekonomi, serta kebijakan perekonomian yang elitis dan menguntungkan oligarki”.
“Kita menyaksikan di era Joko Widodo, kelas menengah terus-menerus menurun dan kemakmuran yang sebelumnya dapat dilihat secara langsung di keseharian semakin menurun dengan tidak terjadinya trickle-down effect atau pemerataan ekonomi ke masyarakat bawah,” paparnya.
Sementara itu, di era Joko Widodo, perekonomian terfokus kepada industri-industri ekstraktif yang diolah dengan hilirisasi yang padat modal dan teknologi, hal ini membuat kekayaan hanya beredar di kalangan elit pengusaha, regulator pemerintahan, dan investor.
Sebaliknya, masyarakat biasa semakin miskin, hal ini dibuktikan dengan penurunan jumlah kelas menengah dari 57.33 juta pada 2019 ke 47.85 juta pada 2024.
Penurunannya hampir 10 juta jiwa atau 16.5%, padahal besarnya jumlah kelas menengah adalah kunci kemakmuran sebuah bangsa. Sementara itu, jumlah orang kaya Indonesia dengan kekayaab 1Juta Dollar AS(16-17 milyar rupiah) meningkat hampir sepuluh kali lipat dari 832 orang pada 2016 ke 8120 orang pada 2024.
” Artinya, selama era Jokowi pertumbuhan ekonomi yang ada di kisaran rata-rata 5% pertahun hanya memperkaya sebagian kecil kelas atas dan memiskinkan masyarakat biasa,” bebernya.
Sebelumnya diketahui, Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menyatakan dirinya akan bekerja mati-matian untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal tersebut Jokowi sampaikan dalam Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). Mulanya, Jokowi menyebut dia akan bekerja keras untuk PSI.
“Saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI,” ujar Jokowi.
Lalu, barulah Jokowi berteriak dia akan mati-matian demi PSI.
Jokowi juga berjanji akan bekerja habis-habisan untuk PSI. “Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja mati-matian untuk PSI!” teriak Jokowi disambut tepuk tangan.
“Saudara bekerja habis-habisan untuk PSI, saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI!” sambungnya.
Jokowi menjelaskan, Indonesia memerlukan partai yang baik. (fj)
