Kamis, Oktober 15

JAKARTA | RMN Indonesia

Tokoh aktivis 1998 Budiman Sudjatmiko mengaku tidak anti terhadap kapitalisme meskipun memposisikan dirinya sebagai seorang sosialis.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) tersebut mengungkapkan bahwa dirinya tidak keberatan dengan nilai-nilai positif yang ada dalam kapitalisme. Menurutnya, sistem kapitalisme mampu mendorong munculnya inovasi, kreativitas, serta jiwa kewirausahaan (entrepreneurship).

“Kapitalisme memungkinkan adanya entrepreneurship, ada insentif model, model imbalan yang proporsional,” ujar Budiman seperti dikutip dari akun Instagram pribadinya @masbud_sudjatmiko, Rabu (14/10/2026).

Budiman menegaskan tidak mempermasalahkan kapitalisme selama iklim persaingan yang berjalan tetap sehat.

“Saya enggak masalah dengan kapitalisme. Kapitalisme bisa mendorong kreativitas, inovasi, kewirausahaan, kompetisi yang sehat. Oke, saya enggak masalah. Saya orang sosialis, tapi saya enggak bermasalah dengan kapitalisme,” jelas mantan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) tersebut.

Meskipun begitu, Budiman secara tegas membedakan antara kapitalisme dan imperialisme. Ia menegaskan sangat menentang imperialisme karena sistem tersebut dinilai menindas pihak yang lemah dan tidak memberikan ruang untuk berdiri di atas kaki sendiri.

“Imperialisme itu adalah membuat kamu tetap ada di bawah telapak kakiku. Kamu tidak boleh berdiri lebih tinggi dari aku. Kamu tidak boleh berdiri tegak, kepalamu di atas lututku. Kamu harus tetap di bawah lututku. Itu imperialisme,” tegasnya.

Berbeda dengan imperialisme, Budiman menilai kapitalisme justru membuka peluang bagi setiap pihak untuk berkompetisi dan meraih kesuksesan yang lebih tinggi.

“Kalau kapitalisme, ‘Ayo, kalau kamu bisa melompat lebih tinggi, enggak apa-apa. Nanti gua juga mau berlatih lagi untuk melompat lebih tinggi dari kamu,'” tuturnya.

Mengenai alasannya memilih jalan sosialisme, Budiman menjelaskan bahwa sosialisme berfokus pada jaminan kesejahteraan dan memberikan kesempatan bagi kelompok masyarakat yang kesulitan untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

“Kesejahteraan. Karena ada orang-orang yang memang agak susah melompat nih, yang harus kita ajak nih. Nah, itu pilihan saya menjadi sosialis. Tapi saya tidak masalah dengan kapitalisme. Saya permasalahkan imperialisme,” pungkasnya. (Egi)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version