JAKARTA | RMN Indonesia
Di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap terjebak pada angka dan kebijakan jangka pendek, sebuah pandangan mendalam datang dari Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko.
Ia menyoroti pentingnya kehadiran akademisi dan pengkritik tajam, Rocky Gerung, di jajaran Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Bagi Budiman, kehadiran sosok dengan pijakan berpikir filosofis bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan penjaga kompas moral dan arah besar bangsa di sekeliling Presiden Prabowo Subianto.
“Kalau Presiden hanya dikelilingi saran taktis, keputusannya akan efisien tapi bisa kehilangan koherensi strategis. Dengan masukan yang filosofis dan kritis, keputusannya bisa lebih strategis dan komprehensif,โ ujar Budiman, Minggu (4/10/2026).
Budiman menilai Prabowo merupakan sosok pemimpin yang bergerak atas dasar substansi dan nilai-nilai konstitusional, seperti Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 33.
Dalam menahkodai negara, seorang kepala negara tidak hanya butuh masukan teknis tentang apa yang harus dilakukan besok, tetapi juga pertanyaan mendasar tentang ke mana arah bangsa ini sedang dibawanya.
Kehadiran Rocky Gerung yang dikenal dengan daya kritis tanpa kompromi justru dipandang sebagai aset berharga.
Kejujuran dalam berpikir dan keberanian untuk tetap bersikap kritis adalah amunisi penting agar kekuasaan tidak kehilangan kepekaan nuraninya.
Menjelaskan visinya tentang hubungan filsafat dan kekuasaan, Budiman teringat pesan berharga dari mantan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln:
“Falsafah hidup yang diajarkan di ruang-ruang kelas sebuah generasi akan jadi falsafahnya pemerintahan mendatang,” tuturnya.
Budiman menegaskan bahwa setiap pemimpin yang memahami beban sejarahnya pasti menyadari perlunya berdampingan dengan para pemikir.
“Bahkan filosof sendiri harus jadi pemimpin atau setidaknya pemimpin harus punya kapasitas sebagai filosof. Pak Prabowo sedang mengerjakan salah satunya,โ pungkasnya.
Pada akhirnya, ruang nasihat di Istana bukan sekadar tempat menumpuk laporan efisiensi, melainkan wadah menguji kejujuran gagasan demi masa depan rakyat Indonesia. (Egi)
