Jumat, April 17

RMN | RMN Indonesia

Wakil Presiden ke-11 Republik Indonesia, Boediono, menegaskan bahwa Indonesia perlu kembali memperkuat sinergi antara politik dan teknokrasi untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik global dan dinamika dalam negeri yang kian kompleks.

Hal itu disampaikan Boediono dalam kuliah umum bertajuk “Ketidakpastian Geopolitik Dunia” yang digelar dalam rangka HUT ke-35 Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta, Selasa (15/10).

Menurutnya, kolaborasi antara teknokrat dan politisi pernah membawa Indonesia pada masa kejayaan ekonomi di era 1970-an hingga 1990-an.

“Saya percaya banyak dari kita mendambakan terulangnya kembali sinergi positif antara teknokrasi dan politik seperti waktu itu, terutama di masa yang penuh risiko dan ketidakpastian seperti sekarang,” ujar Boediono.

Ia mencontohkan keberhasilan pemerintah pada masa itu yang mampu menekan inflasi tinggi di tahun 1960-an dan kemudian mencetak pertumbuhan ekonomi pesat selama dua dekade berikutnya.

“Indonesia bahkan sempat disebut sebagai kandidat macan Asia sebelum krisis keuangan 1997. Penggalan sejarah ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua,” tambahnya.

Boediono menjelaskan, keberhasilan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh strategi diplomasi internasional, tetapi juga oleh kualitas kebijakan ekonomi dan dukungan politik di dalam negeri.

Menurutnya, kebijakan ekonomi yang baik tanpa dukungan politik hanya akan menjadi konsep di atas kertas. Sebaliknya, semangat politik tanpa dasar teknokratis yang kuat justru bisa menjadi bumerang bagi bangsa.

“Teknokrasi dan politik harus bersinergi dan akan menghasilkan kebijakan yang baik apabila masing-masing setia pada fungsi dan kaidah institusionalnya,” tegasnya.

Boediono pun mengajak seluruh pemangku kepentingan, baik dari kalangan teknokrat, akademisi, maupun politisi, untuk memperkuat kolaborasi demi menjaga stabilitas nasional dan ketahanan ekonomi Indonesia di masa depan.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version