JAKARTA I RMN Indonesia
Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM subsidi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mendapat sorotan Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria.
Sofyano menilai keputusan PT Pertamina Patra Niaga menambah nozzle BBM subsidi di sejumlah SPBU di Makassar merupakan langkah tepat. Namun, menurut dia, penambahan fasilitas tersebut tidak akan maksimal jika tidak dibarengi dengan percepatan pelayanan dan pembenahan manajemen antrean di SPBU.
“Saya sangat mendukung keputusan Patra Niaga menambah nozzle BBM subsidi di sejumlah SPBU. Ini langkah konkret yang bisa memperbesar kapasitas pelayanan sekaligus mempercepat kendaraan keluar dari antrean,” ujar Sofyano.
Menurutnya, semakin banyak nozzle yang beroperasi, semakin besar pula kapasitas kendaraan yang dapat dilayani secara bersamaan. Dengan demikian, waktu tunggu masyarakat diharapkan dapat ditekan.
Namun, Sofyano mengingatkan bahwa panjang antrean tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah nozzle atau ketersediaan BBM kecepatan operator dan tata kelola arus kendaraan juga menjadi faktor krusial.
“Operator SPBU harus lebih sigap bukan hanya cepat ketika mengisi BBM, tetapi juga harus cerdas mengatur arus kendaraan masuk, posisi kendaraan saat mengisi dan kendaraan yang keluar jangan sampai kendaraan yang sudah selesai mengisi justru menghambat kendaraan berikutnya,” katanya.
Jangan Sampai Antrean Panjang karena Pelayanan Lambat sofyano meminta Pertamina Patra Niaga mendorong pemilik dan pengelola SPBU meningkatkan standar pelayanan, terutama ketika terjadi lonjakan antrean.
Menurut dia, dalam kondisi antrean puluhan hingga ratusan kendaraan, keterlambatan beberapa menit saja dapat menciptakan efek berantai.
“Dalam kondisi normal mungkin keterlambatan satu atau dua menit tidak terasa. Tetapi ketika ada puluhan bahkan ratusan kendaraan mengantre, keterlambatan kecil bisa menjadi panjang di belakangnya. Karena itu seluruh proses pelayanan harus dibuat seefisien mungkin,” tegasnya.
Ia juga meminta proses pembayaran, termasuk penggunaan mesin pembayaran elektronik, tidak menjadi titik kemacetan baru saat antrean sedang padat.
“Semua faktor yang berpotensi memperlambat proses pengisian BBM harus diminimalkan,” ujarnya.
BBM Subsidi Jangan Dijual ke Jeriken Saat Warga Mengantre tak hanya soal pelayanan, Sofyano menyoroti pengawasan penyaluran BBM subsidi. Ia meminta praktik pembelian menggunakan jeriken maupun drum diperketat, terutama ketika antrean kendaraan masyarakat sedang panjang.
“Kalau kendaraan masyarakat sedang mengantre panjang, jangan sampai pada saat yang sama BBM subsidi justru dijual ke jeriken atau drum, apa pun alasannya prioritas harus diberikan kepada kendaraan yang sudah berada dalam antrean,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kecemburuan sekaligus memperburuk persepsi masyarakat terhadap tata kelola penyaluran BBM subsidi jangan Biarkan Warga Antre Lama, Lalu BBM Habis sofyano juga menekankan pentingnya kepastian stok dan keterbukaan informasi.
Jangan sampai masyarakat telah menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean, tetapi kemudian mendapati BBM subsidi habis.
“Stok BBM subsidi harus benar-benar tersedia dan terukur. Kalau stok aman, masyarakat juga harus diberi informasi yang jelas. Jangan sampai ketidakjelasan informasi membuat masyarakat panik dan melakukan pembelian berlebihan,” jelasnya.
Ia mendorong Pertamina Patra Niaga bersama pemerintah daerah secara aktif memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi stok dan penyaluran BBM subsidi.
“Jangan biarkan masyarakat mencari informasi sendiri lalu muncul kepanikan. Kalau stok tersedia, katakan tersedia pemerintah daerah dan Patra Niaga harus bersama-sama meyakinkan masyarakat agar tidak panic buying,” pungkas Sofyano.
SPBU Diminta Lebih Peduli kepada Konsumen sofyano bahkan mengusulkan langkah sederhana untuk menjaga kondisi antrean tetap kondusif, salah satunya menyediakan air minum secara gratis bagi masyarakat yang harus menunggu lama.
“Ini bukan soal minumannya. Ini soal bagaimana masyarakat yang sedang mengantre merasa diperhatikan ketika antrean panjang, suasana harus dibuat tetap tenang dan tidak memicu kepanikan,” ujarnya.
Ia menegaskan, persoalan antrean BBM subsidi tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah pasokan atau nozzle diperlukan kombinasi pasokan yang cukup, kapasitas nozzle yang memadai, pelayanan SPBU yang cepat, pengawasan penyaluran yang ketat, serta komunikasi publik yang transparan.
“Menambah nozzle adalah langkah yang bagus. Tetapi jangan berhenti di sana. Yang kita perlukan adalah memastikan seluruh rantai pelayanan bergerak cepat agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi pihak yang harus membayar mahal dengan waktunya karena antrean,” tutup Sofyano.(Agus).
