JAKARTA | RMN Indonesia
Indonesia menghasilkan kopi dalam jumlah besar dan beragam jenis, tetapi negara ini belum menguasai perdagangan kopi global. Negara-negara Barat masih mendominasi penentuan harga dan pusat perdagangan.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai hal ini sebagai tantangan sekaligus peluang. Ia mengatakan Indonesia harus menjadi pusat perdagangan dan penentu harga kopi, bukan hanya pemasok bahan baku.
“Indonesia adalah produsen kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Kolombia. Kita punya kopi arabika, robusta, hingga kopi luwak. Namun Inggris masih menjadi pusat perdagangan kopi,” kata Anindya.
Dominasi pusat perdagangan di luar negeri membuat Indonesia belum menikmati nilai tambah dan kendali harga kopi sepenuhnya. Padahal, volume produksi besar dan varietas kopi yang kaya memberi Indonesia modal kuat untuk menjadi hub perdagangan regional dan global.
Kementerian Pertanian dan USDA mencatat produksi kopi Indonesia pada 2023–2024 mencapai 654.000–789.000 ton per tahun. Angka ini menyumbang 6–7 persen produksi kopi dunia, dengan dominasi kopi robusta.
Anindya menilai Indonesia bisa memanfaatkan APEC Business Advisory Council Meeting I di Jakarta, Februari 2026, untuk memperkenalkan diri sebagai pusat perdagangan kopi. Forum ini akan mempertemukan pemimpin usaha dari 21 negara anggota APEC.
Ia menekankan Indonesia perlu membangun ekosistem perdagangan yang terintegrasi. Sistem ini mencakup perdagangan, pembiayaan, logistik, dan platform business matching. Platform daring Kementerian Perdagangan sudah mencatat transaksi hampir 150 juta dolar AS dalam dua tahun terakhir dan membuka akses pasar global bagi UMKM.
“Dengan ekosistem yang tepat, Indonesia bisa mengendalikan perdagangan kopi dan menambah nilai produknya. Indonesia berpotensi menjadi pusat perdagangan kopi dunia,” pungkas Anindya.
(rhm/Fj)
