TANGERANG SELATAN I RMN Indonesia
Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) terus mendorong perangkat daerah menciptakan inovasi yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menegaskan, inovasi pelayanan publik tidak boleh hanya menjadi program untuk mengejar penghargaan.
Setiap inovasi harus mampu menjawab persoalan masyarakat sekaligus menghadirkan pelayanan yang lebih mudah, cepat, dan berkualitas.
“Inovasi itu harus memberikan kemudahan, terutama dalam pelayanan publik bagi masyarakat. Jadi, inovasi dari kita ini harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Benyamin, beberapa waktu lalu.
Menurut Benyamin, perkembangan teknologi membuat pemerintah harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat. Karena itu, pelayanan publik di Tangsel didorong semakin memanfaatkan teknologi digital.
“Zaman sekarang, semua pelayanan harus berbasis teknologi, sehingga masyarakat merasakan kemudahan dan kecepatan dalam setiap pelayanan yang kita hadirkan,” katanya.
Sejumlah perangkat daerah telah mengembangkan berbagai inovasi. Bappelitbangda, misalnya, menghadirkan SISTARI (Basis Data Riset dan Inovasi).
Sedangkan Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) mengembangkan Petakan Asetku, yakni sistem pemetaan digital berbasis koordinat untuk memperkuat pengamanan aset tanah.
Dinas Pemuda dan Olahraga memiliki Aplikasi Pelayanan Informasi Kepegawaian Dispora Kota Tangerang Selatan, sementara Kecamatan Ciputat Timur menghadirkan SAPU CIPTIM.
Inovasi juga dikembangkan di sektor pelayanan kesehatan. RSU Kota Tangerang Selatan memiliki sejumlah layanan seperti IMANJA, SINGANGENIN, dan Informasi Antrian Live Pendaftaran.
Sementara RSUD Pondok Aren mengembangkan HERO (Hospital Electronic Registration Online) dan DISIKAT (Diskusi Seputar Informasi Kesehatan Masyarakat).
Pada tingkat puskesmas, inovasi lebih banyak diarahkan untuk menangani persoalan kesehatan masyarakat, mulai dari tuberkulosis (TB), stunting, kesehatan ibu dan anak, penyakit tidak menular, kesehatan jiwa hingga kepatuhan minum obat.
Puskesmas Bakti Jaya, misalnya, memiliki Ngider TB dan JAMBU (Jalin Ibu Hamil dengan Kelas Ibu).
Puskesmas Bambu Apus menghadirkan SIMO (Stiker Inget Minum Obat), sedangkan Puskesmas Ciater memiliki MENTARI CETING, yang berfokus pada upaya menuju ibu dan balita yang cerdas dan sehat tanpa stunting.
Puskesmas Ciputat Timur juga mengembangkan MANIS HADIR UNTUK BERSAMA dan GEBET SI MANIS. Sementara Puskesmas Cirendeu memiliki SI KRIWIL, SEPAKAT, CEMILAN MAK GEBOY, dan IMUT PISAN.
Salah satu puskesmas yang memiliki banyak inovasi adalah Puskesmas Jurang Mangu. Sejumlah program yang dikembangkan antara lain Mari Juragan, MAS PI’I, GELIS SIMANIS, GESIT, PELANGI BIRU, JELITA, SI PANDA, PMO, SILATURAHMI MANIS, hingga PEKA SEJIWA.
Berbagai inovasi juga hadir di puskesmas lainnya. Puskesmas Pondok Aren memiliki DALANG PERKASA dan GEROBAK SEHAT, Puskesmas Pondok Betung mengembangkan GEMILANG, sedangkan Puskesmas Pondok Cabe Ilir menghadirkan PASTI HEBAT BESTI untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan pencegahan stunting.
Puskesmas Setu memiliki GEMPITA dan DARLING TBC, sementara Puskesmas Situ Gintung menghadirkan Morumpi dan DIDI TOGA.
Benyamin menekankan, banyaknya inovasi yang dikembangkan bukan menjadi tujuan akhir. Yang paling penting, setiap program harus memberikan hasil yang terukur dan benar-benar dirasakan masyarakat.
Dengan demikian, transformasi pelayanan publik di Tangsel diharapkan tidak hanya terlihat dari banyaknya inovasi yang dilahirkan, tetapi juga dari semakin mudahnya masyarakat memperoleh layanan pemerintah.
“Yang paling penting bukan banyaknya inovasi, tetapi manfaatnya dirasakan masyarakat,” tegas Benyamin.(Fj).
