Oleh: Dr. Asep Ferry Bastian, S.E., M.M.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang
TANGERANG | RMN Indonesia
Dunia ekonomi sedang berada dalam fase perubahan yang berlangsung sangat cepat. Konflik geopolitik, perang dagang, ketidakpastian ekonomi global, perkembangan teknologi digital, perubahan iklim, hingga kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara negara, perusahaan, dan masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi.
Dalam situasi tersebut, ketidakpastian bukan lagi sesuatu yang muncul sesekali. Perubahan telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi sehari-hari. Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana menghindari krisis, melainkan bagaimana membangun kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan menciptakan peluang di tengah perubahan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang pada 9 Juli 2026. Mengangkat tema โKetahanan Ekonomi Nasional di Tengah Krisis Global: Membangun Entrepreneur Tangguh dan Kepemimpinan Bisnisโ, forum tersebut menghadirkan gagasan mengenai pentingnya memperkuat ekonomi nasional sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan.
Ekonom Ichsanuddin Noorsy menyoroti bahwa ketahanan ekonomi tidak dapat hanya dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi. Negara membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat agar tidak mudah terguncang oleh tekanan eksternal.
Menurutnya, terdapat empat aspek yang perlu menjadi perhatian, yakni availability atau ketersediaan, accessibility atau akses, affordability atau keterjangkauan, dan acceptability atau penerimaan masyarakat. Konsep 4A tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi harus mampu memastikan barang dan jasa tersedia, dapat diakses masyarakat, memiliki harga yang terjangkau, serta memenuhi kebutuhan dan harapan publik.
Perspektif tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Daya beli masyarakat, kekuatan sektor riil, akses terhadap pembiayaan, serta kemampuan mengurangi ketergantungan pada faktor eksternal juga menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi.
Ekonomi nasional yang kuat pada akhirnya harus memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri sekaligus tetap mampu bersaing dalam lingkungan global.
Di sisi lain, tantangan ekonomi juga dirasakan langsung oleh dunia usaha. Arief R. Wismansyah, Wali Kota Tangerang periode 2013โ2023, menekankan pentingnya resilience atau ketangguhan bagi seorang entrepreneur.
Dalam dunia bisnis yang berubah cepat, keberhasilan masa lalu tidak selalu menjadi jaminan keberhasilan di masa depan. Model bisnis, perilaku konsumen, teknologi, hingga pola persaingan dapat berubah dalam waktu singkat. Karena itu, pelaku usaha harus memiliki kemampuan membaca perubahan sekaligus keberanian untuk menyesuaikan diri.
Entrepreneur tidak cukup hanya mengandalkan modal finansial. Kreativitas, inovasi, kemampuan mengambil risiko secara terukur, serta kecakapan dalam menyelesaikan persoalan menjadi modal yang semakin penting.
Perubahan tersebut semakin terasa dengan hadirnya AI. Teknologi ini tidak hanya mengubah cara perusahaan bekerja, tetapi juga menciptakan model bisnis dan jenis pekerjaan baru. Pada saat yang sama, pekerjaan yang bersifat rutin dan repetitif semakin mudah diotomatisasi.
Kondisi tersebut menuntut generasi muda untuk tidak berhenti pada orientasi mencari pekerjaan. Mereka perlu didorong menjadi pencipta peluang, baik melalui kewirausahaan maupun melalui kemampuan menciptakan nilai dalam pekerjaan yang mereka jalani.
Menjadi entrepreneur bagi diri sendiri berarti memiliki pola pikir untuk terus belajar, berani mencoba, mampu melihat persoalan sebagai peluang, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Islam Syekh-Yusuf Dr. Ir. Muhammad Yus Firdaus melihat tantangan masa depan melalui konsep BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, dan Incomprehensible). Dunia yang rapuh, penuh kecemasan, tidak linear, dan sulit dipahami membutuhkan model kepemimpinan yang berbeda.
Dalam kondisi seperti itu, pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman dan pola kerja lama. Pemimpin harus mampu membaca perubahan, mengambil keputusan dalam situasi tidak pasti, sekaligus menjaga kepercayaan orang-orang yang dipimpinnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Muhammad Yus Firdaus menawarkan konsep kepemimpinan 5C, yakni Clarity, Courage, Compassion, Consistency, dan Curiosity. Lima karakter tersebut menekankan pentingnya kejernihan berpikir, keberanian mengambil keputusan, kepedulian terhadap manusia, konsistensi terhadap nilai, serta rasa ingin tahu untuk terus belajar dan berinovasi.
Ketiga perspektif tersebut pada dasarnya saling melengkapi. Ketahanan ekonomi membutuhkan fondasi yang kuat. Fondasi tersebut harus didukung oleh pelaku usaha yang tangguh dan adaptif, serta pemimpin yang mampu mengarahkan perubahan.
Artinya, membangun ketahanan ekonomi nasional bukan hanya tugas pemerintah. Dunia usaha, perguruan tinggi, dan generasi muda memiliki peran yang sama pentingnya.
Indonesia memiliki modal demografi yang besar. Jumlah penduduk usia produktif yang tinggi dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Namun, bonus demografi juga dapat menjadi tantangan apabila generasi muda hanya diposisikan sebagai pencari kerja tanpa dibekali kemampuan menciptakan peluang.
Dalam konteks inilah perguruan tinggi memiliki posisi strategis. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori dan keahlian teknis. Perguruan tinggi juga harus membangun karakter, kreativitas, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, serta keberanian berwirausaha.
Kampus perlu menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan dengan kebutuhan dunia usaha dan persoalan masyarakat. Mahasiswa harus diberi kesempatan untuk mengembangkan gagasan, menguji inovasi, membangun usaha, serta belajar menghadapi kegagalan.
Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi tidak hanya siap memasuki pasar kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan memberikan solusi bagi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, tidak ada satu strategi yang mampu menghilangkan seluruh ketidakpastian ekonomi global. Namun, ketidakpastian dapat dihadapi dengan membangun ketangguhan dari berbagai sisi.
Negara harus memperkuat fondasi ekonominya. Dunia usaha harus semakin adaptif dan inovatif. Pemimpin harus mampu membaca perubahan dan mengambil keputusan secara tepat. Sementara perguruan tinggi harus melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus keberanian untuk menciptakan peluang.
Entrepreneur masa depan bukan mereka yang paling besar modalnya, melainkan mereka yang mampu belajar paling cepat, beradaptasi terhadap perubahan, membangun jejaring, memanfaatkan teknologi, dan terus menciptakan nilai.
Ketahanan ekonomi nasional pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa kuat negara menghadapi krisis, tetapi juga tentang seberapa siap manusia di dalamnya mengubah tantangan menjadi peluang.
Jika fondasi ekonomi semakin kokoh, entrepreneur semakin tangguh, dan kepemimpinan semakin adaptif, maka ketidakpastian global tidak harus selalu menjadi ancaman. Ia dapat menjadi ruang untuk tumbuh, berinovasi, dan membangun ekonomi Indonesia yang lebih mandiri serta berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.(***)
