TANGERANG – RMN Indonesia
Festival Cisadane 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan, budaya, dan kuliner, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Melalui kehadiran booth layanan literasi, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang mengajak pengunjung untuk semakin dekat dengan dunia membaca dan pengelolaan arsip.

Dalam gelaran tahunan tersebut, DPAD Kota Tangerang menghadirkan lebih dari 1.300 koleksi buku yang dapat dinikmati masyarakat. Koleksi tersebut didominasi oleh buku anak-anak dengan porsi sekitar 60 persen atau kurang lebih 700 eksemplar, sebagai upaya mendorong tumbuhnya budaya membaca sejak usia dini.
Kepala DPAD Kota Tangerang, Engkos Zarkasyi, mengatakan kehadiran booth DPAD di Festival Cisadane merupakan bentuk inovasi dalam mendekatkan layanan perpustakaan dan kearsipan kepada masyarakat secara langsung.
“Festival Cisadane menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan layanan literasi di tengah masyarakat. Kami ingin perpustakaan hadir dengan suasana yang lebih menyenangkan, tidak hanya sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan pembelajaran,” ujar Engkos.
Ia menjelaskan, selain menyediakan koleksi bacaan, booth DPAD juga dirancang dengan berbagai aktivitas menarik yang dapat dinikmati anak-anak maupun keluarga. Pengunjung dapat mengikuti kegiatan mewarnai, storytelling, pertunjukan sulap edukatif, hingga mencoba permainan digital edukasi EvernFate.

Bagi rombongan pelajar yang datang berkunjung, DPAD juga menyediakan hadiah berupa buku bacaan dan perlengkapan mewarnai sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk meningkatkan ketertarikan anak terhadap literasi.
Tidak hanya layanan perpustakaan, DPAD turut memperkenalkan inovasi kearsipan melalui program LESTARI (Layanan Enkapsulasi Arsip Tangerang Terintegrasi). Layanan ini memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menjaga dokumen penting seperti ijazah, akta kelahiran, maupun sertifikat.
“Melalui layanan LESTARI, masyarakat dapat melakukan enkapsulasi dokumen menggunakan plastik khusus astrolon secara gratis. Prosesnya cepat, sekitar lima menit, dan lebih aman dibandingkan metode laminasi panas yang berisiko merusak dokumen,” jelas Engkos.
Menurutnya, berbagai inovasi yang dilakukan DPAD merupakan bagian dari upaya mengubah persepsi masyarakat bahwa perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi juga pusat pengembangan pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat.
Hal tersebut juga tercermin melalui program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang terus dikembangkan DPAD Kota Tangerang. Program tersebut mendorong masyarakat memanfaatkan pengetahuan dari perpustakaan menjadi keterampilan yang memiliki nilai manfaat dan ekonomi.
“Perpustakaan harus mampu memberikan dampak nyata. Melalui TPBIS, berbagai ilmu dan informasi yang diperoleh masyarakat dapat dikembangkan menjadi keterampilan produktif, seperti kreativitas berbasis lingkungan dan pengembangan usaha,” tambahnya.
Kehadiran DPAD di Festival Cisadane 2026 menjadi bukti bahwa kegiatan literasi dapat dikemas secara kreatif dan menarik, sehingga mampu menjangkau lebih banyak masyarakat serta memperkuat budaya membaca di Kota Tangerang.(Wil)
