JAKARTA | RMN indonesia
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menilai kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, harus menjadi peringatan keras bagi seluruh pihak. Ia menegaskan tragedi tersebut mencerminkan persoalan serius yang tidak boleh diabaikan.
Abdul Muhaimin Iskandar menyampaikan pernyataan itu di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2/2026) malam. Ia menegaskan seluruh elemen masyarakat dan negara harus menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi bersama.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin.
Selanjutnya, Cak Imin menekankan pentingnya kepekaan sosial dan keterbukaan untuk saling membantu. Ia mengingatkan agar setiap orang dan institusi mudah diakses oleh masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya setelah diduga tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000. Korban meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).
Dalam surat tersebut, sebagaimana telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menyampaikan pesan perpisahan kepada sang ibu.
“Surat buat Mama **
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Lebih lanjut, keluarga mengungkapkan bahwa korban tinggal bersama neneknya. Ibunda korban merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.
Kasus tersebut kini menjadi sorotan publik dan memunculkan keprihatinan luas terkait kemiskinan, akses pendidikan, serta kondisi sosial yang dihadapi anak-anak di daerah. (fj)
