Selasa, September 29

TANGERANG SELATAN I RMN Indonesia

Dugaan perundungan yang berujung pada cedera seorang siswa dalam kegiatan Pramuka di Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Serpong, Tangerang Selatan, mendapat perhatian serius dari Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina ICM, Tamsil Linrung.

Tamsil akhirnya buka suara setelah kasus tersebut menjadi perhatian publik. Ia menegaskan, persoalan keselamatan dan perlindungan anak harus menjadi prioritas utama sekolah.

Tamsil menyatakan keprihatinannya atas insiden kegiatan Pramuka yang terjadi pada akhir Agustus lalu.

“Saya mengikuti dengan saksama pemberitaan dan perbincangan publik belakangan ini mengenai insiden yang terjadi dalam kegiatan Pramuka di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani,” ujar Tamsil, Senin (28/9/2026).

Ia menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi siswa yang mengalami cedera. Menurut Tamsil, tidak ada alasan yang dapat membenarkan seorang anak pulang dari kegiatan sekolah dalam kondisi mengalami luka fisik hingga trauma dan harus meninggalkan lingkungan belajar.

“Saya mendoakan kesembuhannya, lahir maupun batin,” katanya.

Minta Investigasi Dibuka Berdasarkan Fakta

Tamsil menjelaskan bahwa Dewan Pembina tidak menjalankan operasional harian sekolah. Tanggung jawab tersebut berada di tangan manajemen sekolah.

Namun, Dewan Pembina memiliki tanggung jawab memastikan nilai-nilai yang menjadi dasar pendirian ICM tetap dijalankan.

Karena itu, ia telah meminta manajemen sekolah melakukan investigasi internal secara menyeluruh dan terbuka terhadap seluruh pihak terkait.

“Proses investigasi harus berjalan berdasarkan fakta yang diperiksa, bukan berdasarkan tekanan opini atau spekulasi tentang siapa pun yang diduga terlibat,” tegasnya.

Tamsil juga mengingatkan bahwa seluruh anak yang disebut dalam perkara tersebut, baik yang diduga sebagai korban maupun pihak yang diduga terlibat, masih di bawah umur. Karena itu, identitas dan hak mereka harus dilindungi.

“Tidak ada anak, dari latar belakang keluarga apa pun, yang berhak mendapat perlakuan berbeda dalam proses ini. Itu prinsip yang saya pegang,” ujarnya.

Soroti Spekulasi di Media Sosial

Di tengah mencuatnya dugaan bullying tersebut, berbagai informasi dan spekulasi juga beredar di media sosial, termasuk klaim mengenai latar belakang keluarga siswa tertentu.

Tamsil meminta masyarakat tidak menjadikan kasus tersebut sebagai ruang untuk melakukan penghakiman publik sebelum fakta terverifikasi.

“Saya memahami keresahan publik, namun saya mengajak semua pihak menahan diri. Menyebarkan tuduhan yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya hanya akan menambah korban baru, yakni korban akibat fitnah dan penghakiman publik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa inti persoalan seharusnya tetap berada pada keselamatan dan kepentingan anak.

Menurutnya, kasus tersebut jangan sampai bergeser menjadi pertarungan opini di ruang publik yang justru mengabaikan kepentingan para siswa.

Protokol Keselamatan ICM Diminta Dievaluasi Total Lebih jauh, Tamsil meminta manajemen ICM melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh protokol keselamatan siswa, khususnya dalam kegiatan kepramukaan maupun aktivitas di luar kelas.

Evaluasi tersebut, kata dia, harus mencakup sistem pengawasan pembina di lapangan hingga mekanisme sekolah dalam merespons laporan dari orang tua.

“Sekolah yang baik bukan yang tidak pernah salah, melainkan yang terbuka mengakui kesalahan dan serius memperbaikinya,” pungkasnya.

Tamsil menegaskan dirinya tidak ingin berpihak kepada pihak tertentu dalam persoalan tersebut.

“Saya tidak berdiri di pihak sekolah, tidak pula di pihak siapa pun yang dituduh atau menuduh. Saya berdiri pada satu kepentingan saja, yakni keselamatan dan masa depan anak-anak ICM,” tutupnya.(Agus)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version