Minggu, Oktober 18

KOTA BOGOR | RMN Indonesia

Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Barat merespons cepat gejolak internal yang terjadi di tubuh Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kota Bogor.

Pengurus wilayah telah menerjunkan tim investigasi untuk mempelajari persoalan serta desakan mundur terhadap Ketua PC GP Ansor Kota Bogor yang dilayangkan sejumlah pengurusnya.

Ketua PW GP Ansor Jawa Barat, H. Subhan Fahmi, membenarkan bahwa pihak wilayah telah menerima informasi dan laporan terkait dinamika di tingkat cabang tersebut.

Pihaknya menegaskan akan mempelajari masalah ini secara objektif dan memprosesnya sesuai dengan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) organisasi.

“Kami sudah mendengar hal tersebut. PW Ansor sudah menurunkan tim investigasi ke Kota Bogor. Kami akan pelajari sebagaimana mestinya dan sesuai dengan aturan organisasi,” ujar Subhan Fahmi saat dikonfirmasi.

Mengenai langkah selanjutnya, Subhan menjelaskan bahwa pemanggilan terhadap pihak-pihak terkait akan segera diagendakan setelah tim di lapangan menyampaikan laporan resmi. Pihaknya masih menunggu koordinasi dari koordinator wilayah sebelum menentukan jadwal pemanggilan.

Langkah tegas PW GP Ansor Jawa Barat ini diambil setelah sebelumnya muncul desakan terbuka dari internal pengurus PC GP Ansor Kota Bogor yang meminta Ketua PC untuk mengundurkan diri.

Desakan tersebut dinilai perlu dilakukan demi mengakhiri kebuntuan tata kelola dan menyelamatkan soliditas organisasi.

Wakil Sekretaris PC GP Ansor Kota Bogor, Nur Isman Iskandar, sebelumnya secara terbuka menyatakan bahwa kepemimpinan dalam organisasi kader membutuhkan kepercayaan, komunikasi, serta kemampuan menyatukan seluruh elemen. Menurutnya, ketika kepemimpinan justru memicu ketegangan berlarut-larut, evaluasi mendasar wajib dilakukan.

“Kalau kepercayaan sudah hilang dan kepemimpinan justru melahirkan ketegangan di internal, maka harus ada keberanian untuk melakukan evaluasi. Jangan mempertahankan jabatan dengan mengorbankan organisasi,” tegas Nur Isman dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/10/2026).

Nur Isman mengingatkan bahwa jabatan pimpinan merupakan amanah, bukan milik pribadi. Mengundurkan diri secara terhormat di tengah krisis kepercayaan, menurutnya, bukanlah bentuk kekalahan melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap masa depan organisasi.

Sikap senada sebelumnya juga disampaikan oleh Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Bogor, Yusuf Maulana Rukmana. Ia membeberkan sejumlah persoalan substantif yang dinilai melanggar prinsip transparansi, akuntabilitas, serta aturan konstitusi organisasi.

Yusuf memaparkan indikasi tidak berjalannya roda organisasi secara terstruktur, seperti tidak dilaksanakannya Musyawarah Kerja Cabang secara tahunan serta belum optimalnya pelaksanaan amanat Konferensi Cabang.

Selain itu, ia juga menyoroti keretakan hubungan antara pengurus cabang dengan anggota Banser, dugaan ketidakjelasan pengelolaan keuangan, hingga persoalan pengerahan kader dalam aksi demonstrasi ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

Rangkaian persoalan tersebut dinilai memerlukan evaluasi menyeluruh agar tata kelola PC GP Ansor Kota Bogor dapat diselamatkan dan dikembalikan sesuai aturan dasar organisasi.

Sementara itu, saat dikonfirmasi mengenai pandangan hukum internal terkait kemelut yang terjadi, Ketua LBH Ansor Kota Bogor, Dita Aditya, S.H., M.H., menyatakan belum dapat memberikan tanggapan maupun pandangan resmi organisasi saat ini.

“Belum bisa memberikan pendapat, masih di Lombok,” ujar Dita singkat.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi telah berupaya melakukan konfirmasi dan menghubungi Kadispora Kota Bogor untuk memberikan tanggapan pandangan dari pemerintah kota Bogor sebagai pembina organisasi kepemudaan namun belum mendapatkan respons. (Egi)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version