JAKARTA I RMN Indonesia
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengingatkan para elite politik, termasuk mantan presiden, agar menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok maupun partai politik.
SBY menyayangkan apabila figur yang pernah menduduki jabatan tertinggi di Indonesia masih terlibat dalam manuver politik praktis hingga terseret dalam pusaran konflik elektoral.
Menurut SBY, status sebagai mantan presiden tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai negarawan. Predikat tersebut harus dibuktikan melalui sikap, pemikiran, dan tindakan yang mengutamakan kepentingan nasional.
“Negarawan itu tidak harus mantan presiden. Bukan semua (mantan presiden) bisa menjadi negarawan kalau memikirkan kepentingan bangsa dan negara. Country over party, country first (negara di atas partai, negara yang utama),” tegas SBY.
Ia juga mengingatkan bahwa para mantan pejabat tinggi negara semestinya mampu menunjukkan keteladanan dalam kehidupan demokrasi.
Pengalaman memimpin negara, kata-kata dan sikap politik mereka seharusnya menjadi modal untuk menjaga persatuan, bukan justru memperuncing persaingan politik.
SBY menegaskan, kepentingan kelompok maupun partai tidak boleh mengalahkan kepentingan republik. Sebaliknya, para elite politik harus mampu menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama dalam setiap langkah politiknya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak semata-mata berbicara tentang perebutan kekuasaan dan kemenangan elektoral. Lebih dari itu, demokrasi menuntut kedewasaan politik, tanggung jawab kebangsaan, serta komitmen untuk menjaga kepentingan nasional di atas ambisi pribadi maupun kelompok.
Catatan redaksi: Untuk memperkuat akurasi berita, perlu ditambahkan konteks kapan dan di mana pernyataan SBY disampaikan serta siapa atau persoalan politik apa yang menjadi sasaran kritiknya.
Tanpa konteks tersebut, pernyataan ini tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa SBY sedang menyindir mantan presiden tertentu.(Agus).
