Sabtu, April 18

JAKARTA | RMN indonesia

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka kemungkinan pembangunan flyover di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi dua persoalan klasik sekaligus: banjir dan kemacetan lalu lintas. Wacana tersebut muncul setelah kawasan itu kembali menjadi titik rawan genangan setiap kali curah hujan tinggi.

Rencana tersebut disampaikan Pramono saat meninjau langsung pembangunan pompa pengendali banjir di Daan Mogot KM 13, Senin (3/2/2026). Ia menegaskan, penanganan banjir di wilayah padat aktivitas seperti Daan Mogot tidak bisa hanya mengandalkan solusi darurat atau jangka pendek.

“Untuk jangka menengah saya sedang memikirkan apakah memang diperlukan untuk membuat flyover di tempat ini. Yang panjangnya mungkin lebih dari 2 kilo. Saya akan minta segera Dinas Bina Marga untuk menghitung kembali flyover di tempat ini,” kata Pramono.

Menurut Pramono, salah satu penyebab utama Daan Mogot kerap terendam banjir adalah posisi badan jalan yang berada lebih rendah dibandingkan permukaan Sungai Mookervart. Saat debit air sungai meningkat, luapan dengan mudah masuk ke jalan dan menyebabkan genangan parah sekaligus melumpuhkan arus lalu lintas.

Flyover yang tengah dipertimbangkan itu diproyeksikan memiliki panjang lebih dari dua kilometer dan dirancang untuk melewati sejumlah titik rawan banjir di sepanjang Daan Mogot. Selain berfungsi sebagai solusi kemacetan, infrastruktur tersebut juga diharapkan mampu meminimalkan dampak luapan air ke jalur utama kendaraan.

Pramono menyebut telah menginstruksikan Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk melakukan penghitungan ulang secara teknis dan menyeluruh terkait rencana pembangunan flyover tersebut, termasuk aspek biaya, konstruksi, serta dampak lalu lintas.

“Saya minta Dinas Bina Marga segera menghitung kembali flyover di tempat ini. Karena memang harus ada penyelesaian jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Sembari menunggu realisasi solusi permanen, Pemprov DKI Jakarta saat ini menjalankan penanganan jangka pendek dengan memasang tiga unit pompa stasioner di titik KM 13, KM 13A, dan KM 13B. Ketiga pompa tersebut memiliki kapasitas total sekitar 7.000 liter per detik, meningkat signifikan dibandingkan kapasitas pompa sebelumnya.

Selain itu, Pramono memastikan program normalisasi sungai tetap berjalan, termasuk di Sungai Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut. Normalisasi ini disebut sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi besar pengendalian banjir Jakarta.

Ia menargetkan persoalan banjir di kawasan Daan Mogot dapat ditangani secara bertahap hingga 2027, baik melalui pembangunan rumah pompa tambahan maupun opsi flyover sebagai solusi struktural jangka panjang. (fj)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version