JAKARTA | RMN Indonesia
capaian pra penjualan sebesar Rp3,70 triliun dan EBITDA sebesar Rp754 miliar, meningkat dibandingkan semester I 2025 yang berada di angka Rp627 miliar. Posisi kas perusahaan hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp1,41 triliun.
Bamsoet menegaskan, ke depan daya saing perusahaan properti tidak hanya ditentukan dari jumlah unit yang terjual, tetapi juga dari kemampuan membangun kawasan yang produktif, nyaman, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Tantangan industri properti ke depan semakin berkembang. Digitalisasi, kecerdasan buatan, pembangunan rendah karbon, efisiensi energi, serta penerapan prinsip ESG akan menjadi standar baru yang harus diikuti pelaku industri,” jelasnya.
Ia mendorong perusahaan properti di Indonesia untuk mempercepat transformasi menuju konsep smart city yang memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan energi, transportasi, keamanan, pelayanan publik, hingga lingkungan.
Bamsoet optimistis sektor properti tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional apabila didukung kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat.
“Ketahanan ekonomi nasional akan semakin kuat apabila ditopang industri properti yang sehat, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan,” pungkas Bamsoet.(hmi)
